KEPATIHAN, Radar Jember – Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi momentum Hari Kesaktian Pancasila. Salah satunya refleksi peristiwa kelam dan perjuangan menjaga ideologi bangsa. Sebab, di balik rentetan peristiwa traumatik itu, perjuangan bangsa menjaga ideologi yang hendak dihancurkan sampai dibayar dengan nyawa.
Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya sekadar merayakan atau mengenang masa lalu semata. Akan tetapi lebih dari itu, Bangsa Indonesia diingatkan atas makna dan essensi dari Pancasila sebagai dasar negara yang harus terus diperjuangkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu sejarawan Jember Setiyo Hadi mengatakan Hari Kesaktian Pancasila memang momentum tahunan yang selalu diperingati setiap tanggal 1 Oktober. Tetapi, peringatan itu memiliki makna yang cukup dalam. Yakni sebagai pengingat peristiwa kelam dan traumatik sekaligus jerih payah perjuangan masyarakat Indonesia untuk menjaga Pancasila.
“Harus diingat Pancasila adalah ikatan negara kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. Bahwa nilai dari peristiwa itu harus disikapi dengan afirmasi positif. Maksudnya dijadikan refleksi agar tidak terulang kembali di masa mendatang,” katanya.
Pria yang akrab disapa Yopi ini menjelaskan, penguatan ideologi itu bisa dilakukan dengan beragam cara. Salah satunya tidak menelan mentah informasi mengenai peristiwa kelam tersebut dari satu sisi saja. Tetapi memperbanyak literasi dan sudut pandang lainnya. Sehingga wawasan kebangsaan itu menjadi penguat ideologi yang terus dipegang teguh masyarakat Indonesia. Ini juga mencegah potensi terjadinya perpecahan bangsa.
“Pasti selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Perlu digali dan dipahami nilai-nilai dasar Pancasila itu. Sehingga bisa dikembangkan dalam pertumbuhan bangsa Indonesia. Tentu, peristiwa itu tidak boleh dijadikan bahan untuk membalas dendam atau lainnya. Tetapi sebagai semangat menyatukan mozaik kebangsaan Indonesia,” jelasnya.
Terpisah, Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Jember Mayor (Purn) Soenyoto menegaskan, momentum Hari Kesaktian Pancasila tak boleh hanya sekadar diperingati saja. Tetapi juga perlu diisi dengan beragam kegiatan yang mampu membangkitkan nilai nasionalisme. Sehingga ideologi Pancasila sebagai dasar negara itu tetap terjaga kemurniannya.
“Sangat penting untuk diingat dan diperingati. Dari sejarahnya, saat itu Pancasila ingin dihancurkan (oleh orang-orang yang kontra Pancasila,Red). Tetapi ada pergolakan saat itu. Sehingga terjadi peristiwa kelam,” terangnya.
Sehingga, lanjut Soenyoto, ideologi Pancasila masih kokoh. Dirinya berharap, generasi saat ini bisa mengambil pelajaran penting atas pertistiwa itu dan ikut menjaga Pancasila saat ini dan di masa depan. (kin)
Editor : Radar Digital