Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Belasan Tahun Mengajar Mengaji tanpa Honor, Kisah Guru Ngaji Jember, Jupri Bangga Lihat Anak Didiknya Juara

Radar Digital • Rabu, 27 September 2023 | 17:00 WIB
PENUH PERJUANGAN: Jupri menceritakan pengalamannya selama menjadi guru mengaji di Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari.
PENUH PERJUANGAN: Jupri menceritakan pengalamannya selama menjadi guru mengaji di Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari.

Jasa para guru mengaji dalam mengajarkan cara membaca Alquran kepada para generasi muda tentu tidak perlu diragukan lagi. Namun, di balik itu semua, tentu ada perjuangan yang harus mereka lalui sebelumnya. Seperti yang dirasakan oleh Jupri, guru mengaji di Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari. Bagaimana perjuangannya?

PRIA berkopiah itu terlihat sibuk mengatur anak-anak untuk memasuki musala. Sesekali dia mengusap dahinya layaknya orang kelelahan. Setelah dipastikan masuk semua, dia memulai untuk mengajarkan membaca Alquran kepada anak-anak itu. Pria tersebut masih terdengar jelas dengan fasih melafalkan kalimat demi kalimat. Usia bukan menjadi halangan bagi Jupri, guru mengaji di Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, untuk mengabdikan dirinya menjadi seorang guru mengaji sejak puluhan tahun yang lalu.

Jupri mulai menjadi seorang guru mengaji sejak 1988 silam, karena dorongan dari warga di lingkungannya. Awalnya hanya ada dua orang santri yang belajar kepadanya. Karena pada saat itu memang ada tempat anak-anak belajar mengaji yang lebih dulu berdiri. Tempat tersebut juga digunakan olehnya, untuk belajar ilmu agama. Namun, karena ada dukungan dari warga, dia memutuskan untuk mendirikan musala sendiri.

Pada awal berdirinya, listrik belum masuk ke wilayahnya. Sehingga dia mengajar menggunakan lampu lentera. Pengajiannya dilakukan pada malam hari, tepatnya setelah para muridnya salat Magrib. Baru belasan tahun setelahnya, listrik masuk ke wilayahnya dan dia mulai menggunakan lampu untuk mengajar. “Belasan tahun saya gak pakai lampu. Waktu itu ngajinya ya malam,” katanya dengan muka berkaca-kaca.

Mengajar anak-anak untuk mengaji tentu bukan hal yang mudah, karena membutuhkan kesabaran dan tenaga ekstra. Mengingat mereka masih senang bermain dan sebagainya. Pelafalan huruf demi huruf juga tidak bisa langsung dipahami dalam satu kali pertemuan. “Harus telaten untuk jadi guru ngaji. Kalau tidak, bisa pingsan itu gurunya,” ucapnya sembari tertawa.

Dari awal hingga belasan tahun dia mengajar, tidak ada insentif atau honor yang diterima. Hingga pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, pria tersebut mendapatkan insentif dari hasil jerih payahnya mengajar. Walaupun menurutnya, tujuan utama mendirikan Musala Nurul Jadid bukan untuk mendapatkan finansial. “Saya ingin mengajarkan ilmu agama, kepada anak-anak yang ada di sekitar,” tegasnya.

Selama 35 tahun mengajar, Jupri mengaku pengalaman yang tidak dapat dilupakan adalah ketika melihat anak didiknya juara dalam lomba mengaji, baik di sekolahnya maupun di lingkungannya sendiri. Biasanya setiap peringatan 17 Agustus di Kelurahan Kranjingan, memang ada berbagai lomba yang diadakan di tingkat RW. Salah satunya lomba membaca Alquran. “Ikut bangga ketika ada santri yang berhasil mendapatkan juara,” pungkasnya. (c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Jember #Insentif bagi Guru #guru ngaji