Bukit yang hijau kekuningan itu kini telah hilang. Hanya menyisakan kubangan air beserta batu-batu besar berwarna hitam. Meski selesai ditambang, nyatanya masih menghasilkan cuan.
Siapa sangka, di tengah wilayah Kota Jember, ternyata pernah ada gumuk alias bukit yang cukup besar. Tempatnya di Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Tepatnya di Jalan Karimata Gang Bukit Duri. Dari gang, lokasinya cukup masuk. Berjarak sekitar 75 meter, rimbun dan rindangnya tanaman terlihat.
Di balik hijaunya tanaman itu, terdapat cekungan cukup dalam. Batu-batu hitam bergaris putih keabu-abuan terpampang. Airnya jernih. Sebagian kecil tertutup kangkung dan jenis tanaman hidrofit (air) lain.
Ya, tempat ini dulunya adalah sebuah bukit bebatuan. Tak heran, kawasan ini disebut Gunung Batu. Ada pula yang menyebutnya Bukit Duri karena tempatnya yang masuk Gang Bukit Duri. Sebuah tempat yang kini telah berubah menjadi wisata dan kolam pemancingan.
Hampir setiap pagi dan sore, orang-orang akan berdatangan. Mereka sekadar melepas rasa penasaran pada landscape bekas tambang di tengah kota. Ada yang datang sendirian, berpasangan, hingga rombongan.
Batuan hitam jenis andesit itu terletak tak beraturan. Dikelilingi air yang menjadikannya danau buatan. Malah, lebih terlihat bak pulau di tengah lautan. Meski saat musim seperti sekarang ini airnya berkurang, tidak sedikit pun panorama itu mengecewakan. Apalagi, ada bangunan-bangunan tinggi di sekitarnya, menambah kesan indah. Oleh karena itu, siapa pun yang datang ke bekas tambang ini akan pulang dengan perasaan riang. Tentunya oleh-oleh berupa foto maupun video tak lupa diabadikan.
Selain jujukan wisata, bekas tambang ini juga disulap menjadi kolam pemancingan. Hampir berjalan tiga tahun terakhir, kolam itu diisi beragam jenis ikan. Mulai nila, lele, gabus, sampai ikan red devil. Para angler, sebutan pemancing, berbondong-bondong datang. Terutama di akhir pekan. “Setiap hari Minggu sampai Kamis dibuka untuk pemancing. Ditutup Jumat dan Sabtu. Kalau masyarakat umum, terbuka untuk setiap hari,” ungkap Muhammad, pemilik sekaligus pengelola bekas tambang gumuk, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, Kamis lalu (14/9).
Lelaki yang akrab disebut Pak Mad ini adalah pemilik gumuk batu. Dia mewarisi tanah itu dari bapaknya. Sertifikat hak milik (SHM) tanah sebagai dokumen resmi kepemilikan gumuk itu juga ada.
Dulunya, kata Mad, itu merupakan gumuk besar. Luas tanahnya mencapai 1,6 hektare. Mulai utara hingga selatan jalan Perumahan Gunung Batu. Bahkan sebagian kecil gumuk itu sekarang menjadi lahan perumahan setempat.
Berpuluh-puluh tahun, gumuk itu dibiarkan tanpa pengelolaan. Sedikit demi sedikit, gumuk itu dijual oleh keluarganya. Puncaknya tahun 2011. Dirinya memutuskan untuk menambang gumuk itu. Sebab, selain batu yang bisa dijual, tanah dan pasirnya juga bisa menghasilkan uang.
“Dikeruk. Tanah dan sirtu (pasir dan batu, Red) untuk pemerataan perumahan-perumahan, lahan, dan ada pesanan material bangunan dari luar kota,” kata kakek dengan sembilan cucu itu. Luasnya gumuk dengan ketinggian sekitar 40 meter itu dikeruk hampir delapan tahun. Gumuk itu pun menghilang.
Meski demikian, bekas tambang itu tidak dibiarkan terbuka. Dia berkomitmen menjaganya. Caranya? Sekeliling bekas tambang itu sudah diberi pagar. Mad hanya menyediakan satu pintu dekat rumahnya di Gang Bukit Duri. Sehingga, siapa pun yang masuk dan keluar bekas tambang akan terpantau.
Bagi pengunjung biasa, dia menerapkan tiket. Per orangnya Rp 5 ribu. Sementara, jika keperluan wedding atau foto lainnya yang komersial, dia tidak mematok harga tertentu. Berapa pun akan diterima. “Kalau untuk pemancing mulai dari Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu. Karena kami memang sengaja mengisi air untuk kolam ikan. Setiap hari Kamis juga kami isi ikannya. Seperti kami isi dua kuintal ikan nila sekarang,” jelasnya.
Pria 74 tahun tersebut mengaku, selama tahun 2019, tak ada lagi aktivitas pertambangan. Meski batu, pasir, hingga tanahnya masih bisa ditambang, pengerukan itu berhenti. Air yang ada di bawah gumuk itu juga sudah semakin banyak. Menurutnya, terdapat sumber mata air. Sebab, air itu terus ada. Setahun setelahnya, dia memutuskan untuk menjadikan hiburan tempat wisata dan kolam pemancingan. “Sampai sekarang,” pungkasnya. (c2/nur)
Editor : Radar Digital