Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Cegah Perkawinan Anak, Sentuh Remaja Ikut Tangani AKI/AKB dan Stunting di Jember

Radar Digital • Kamis, 7 September 2023 | 18:00 WIB
BERI EDUKASI: Lina, siswa Sekolah Perempuan Mandiri (SPM), memaparkan fungsi organ reproduksi kepada para remaja penggerak di Kecamatan Sumbersari.
BERI EDUKASI: Lina, siswa Sekolah Perempuan Mandiri (SPM), memaparkan fungsi organ reproduksi kepada para remaja penggerak di Kecamatan Sumbersari.

Beberapa tahun ini kabar tingginya perkawinan anak, AKI/AKB, dan stunting cukup menggelisahkan Pemkab Jember. Program KRS muncul menjawab persoalan dengan fokus pada edukasi remaja. Kini sudah direplikasi di Kecamatan Sumbersari, bahkan menjadi dorongan terbentuknya Posyandu Remaja.

BIBIT-bibit remaja unggul yang disemai kini mulai muncul ke permukaan menjadi remaja penggerak. Kampung remaja sehat (KRS) yang awalnya hanya di Kelurahan Wirolegi dan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, sekarang resmi direplikasi di semua kelurahan di kecamatan tersebut.

Antusiasme warga, remaja, hingga pemerintah sangat terlihat dari setiap gagasan dan optimismenya melanjutkan program yang awalnya berupa pilot project dari Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember dan Forum Jember Sehat (Forjes) yang didukung oleh USAID MADANI. Setahun berjalan dan resmi direplikasi, kabar baik pun kembali terdengar dari Dinas Kesehatan yang meresmikan adanya posyandu remaja (porem) di Kota Suwar-Suwir.

Menekan tingginya perkawinan anak yang menjadi muasal AKI/AKB hingga stunting adalah cita-cita utamanya. Kelurahan Wirolegi dan Karangrejo mengakui dampak praktik baik KRS mampu mengurangi angka perkawinan anak di wilayahnya. “Dengan adanya KRS, saya sangat setuju. Program ini sangat positif bagi remaja-remaja di wilayah kami,” tutur Lurah Wirolegi M. Musthabiq Dzikril Malik, kemarin (6/9).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh remaja penggerak Kelurahan Wirolegi Lingkungan Kaliwining, Rifki Putra Perdana. Remaja yang sudah berproses dalam KRS kini mampu menjadi trainer bagi para remaja lainnya. “Kami, remaja, juga butuh dikasih tempat untuk mengekspresikan apa yang kami miliki. Membantu program pemerintah atau OMS. Saya sendiri merasa bangga menjadi bagian dari KRS,” ungkapnya.

Benih yang ditebar telah dituai. Namun, tidak lantas selesai dan berhenti begitu saja. Camat Sumbersari Regar Jeane telah mengeluarkan SK replikasi KRS di seluruh wilayahnya sejak 23 Juni lalu. Banyak remaja penggerak yang sudah digaet menjadi trainer. Namun, program tersebut belum sepenuhnya terbentuk. “Kami fokuskan tahun ini untuk sosialisasi dulu. Kami gaungkan kepada masyarakat agar terbentuk rasa memiliki dan rasa ikut bertanggung jawab pada penurunan AKI/AKB serta stunting,” paparnya dalam lokakarya berbagi praktik baik dan diseminasi tingkat kepuasan penerima manfaat terhadap kinerja lembaga di PLUT KUMKM Jember, kemarin.

Dengan suara lantangnya, Regar optimistis program tersebut bisa dilanjutkan oleh Kecamatan Sumbersari bersama Puskesmas Sumbersari dan Geladak Pakem. Kendati nihil anggaran di kelurahan untuk keberlangsungan KRS, pihak kecamatan terus mendorong dengan berbagai inovasi yang bisa dikerjakan. Baik di Kelurahan Kebonsari, Sumbersari, Kranjingan, Tegal Gede, maupun Antirogo. “Sekarang sudah mulai sosialisasi. Remaja sudah banyak yang ikut. Harapannya, tahun depan KRS bisa benar-benar berdiri dan rutin berkegiatan,” urai Regar.

Manajer Program KRS Fojes Yamini mengutarakan harapannya tentang KRS agar bisa bergulir bersama porem. Meskipun porem adalah program Dinkes, namun kolaborasi pentahelix harus tetap sama seperti sebelumnya. Baik unsur pemerintah yang lainnya, masyarakat, akademisi, media, maupun sektor privat.

Remaja menjadi cikal bakal generasi. Juga menjadi hulu dari segala permasalahan perkawinan anak maupun AKI/AKB hingga stunting. Itulah mengapa mereka harus dirangkul. “Porem dan KRS bukan hanya soal memeriksa kesehatan remaja, tapi juga memberdayakan mereka,” jelas Yamini.

Memberikan edukasi seputar kesehatan reproduksi, NAPZA, sampai soal keterampilan hidup. Dilibatkan secara aktif dalam setiap kegiatan. Fasilitatornya pun berasal dari kalangan mereka sendiri. “Mereka (remaja, Red) menjadi peer educator-nya,” ujar Direktur LBH Jentera Perempuan Indonesia itu.

Cita-cita itu masih terus berlanjut dengan program porem. Dinkes berharap nantinya KRS bisa bersama-sama dengan porem mewujudkan penurunan AKI/AKB dan stunting di Jember. “Harapannya KRS dapat melebur jadi satu sama posyandu remaja, karena kegiatan dan sasaran sama,” harap Citra Perbatasari, PJ UKS Dinkes.

Porem mulai bersiap diri. Akhir bulan ini, rencananya akan kembali melakukan pertemuan dengan seluruh puskesmas dalam pemaparan hasil RTL sosialisasi porem pada 9 Agustus lalu. Usai itu, porem akan segera dibentuk di seluruh wilayah naungan 50 puskesmas. (c2/nur)

Editor : Radar Digital
#AKI/AKB #GPP Jember