Pasar Tegal Besar yang dulunya hanya merupakan Pasar Sabtuan, berangsur ramai seiring waktu. Selain pedagang yang berjualan di dalam pasar, ternyata yang berjualan di luar pasar juga semakin banyak. Kasus ini nyaris sama seperti kasus di Pasar Tanjung. Yaitu banyak pedagang yang justru berjualan di luar pasar.
Seiring berkembangnya Pasar Tegal Besar, keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di depan pasar justru menjadi salah satu penyumbang penyebab tersendatnya arus lalu lintas. Sayangnya, ini seperti lepas dari perhatian pemerintah, karena terkesan dibiarkan dan kurang tertib. Trotoar pun tertutup oleh sejumlah pedagang.
Nah, sekali pun keberadaan PKL ini tidak langsung masuk dalam lokasi pasar, tapi penertiban perlu dilakukan. Baik penertibannya masuk dalam pasar, Disperindag, satpol PP, Dishub, ataupun OPD lainnya yang berwenang. Akan tetapi, apabila ini dibiarkan, bukan hal mustahil akan terus bermunculan pedagang yang menguasai trotoar.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, kemarin, Kepala Pasar Sabtuan Slamet Rahadi belum bisa ditemui. Sabtu (2/9) pagi, Jawa Pos Radar Jember sempat mendatangi ke pasar, tapi dia tidak ada di tempat karena libur.
Saat dihubungi melalui pesan singkat, Slamet tidak berkenan untuk melakukan wawancara di rumah maupun di luar jam kerja. Dia meminta jadwal pertemuan pada hari ini (4/9) di Pasar Sabtuan. “Kalau bisa masalah yang di pasar (dibahas, Red) di kantor saja. Tak tunggu di kantor aja hari Senin,” tulisnya. (sil/c2/nur)
Editor : Radar Digital