PAKUSARI, Radar Jember – Instruksi penertiban tugu perguruan silat oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur ternyata tidak berjalan mulus alias gagal dilaksanakan di Jember, kemarin (28/8). Pembongkaran yang seharusnya tuntas pada pertengahan bulan ini nyatanya molor. Di Jember, tugu-tugu yang berada di fasilitas umum atau publik itu masih berdiri kokoh dan belum ditertibkan.
Inisiatif pembongkaran tugu secara mandiri itu, kemarin (28/8), dimulai oleh perguruan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Rencananya tugu PSHT di Desa/Kecamatan Pakusari Jember bakal dibongkar. Namun, ratusan warga PSHT itu menolak. Warga dari beragam ranting atau desa berkumpul jadi satu di samping tugu. Persis di samping jalan nasional yang juga membuat arus lalu lintas cukup tersendat sekitar satu jam.
Pantauan di lapangan, warga mulai melakukan aksi pukul 13.00. Mengenakan seragam, mereka menyuarakan aspirasinya menolak pembongkaran tugu itu. Ada beragam faktor penolakan itu.
Wakil Ketua III PSHT Cabang Jember Heri Sudiono mengatakan, sejak instruksi itu dikeluarkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemkab Jember hingga perguruan silat lain. Hasilnya, seluruh perguruan silat yang memiliki tugu di tanah negara siap membongkar. Namun, memang paling banyak adalah tugu PSHT Jember.
Heri menyebut, ada sekitar 350 tugu yang dibangun warga PSHT Jember. Dirinya mengklaim paling banyak berdiri di tanah pribadi. Sementara, di tanah negara jumlahnya sangat sedikit. "Niat awal kami (jajaran pengurus, Red) memang mau membongkar sesuai dengan instruksi pemangku kebijakan dan keamanan di Jember. Namun, karena situasi tidak kondusif serta berdampak pada sosial pengguna jalan dan lainnya, kami mengambil sikap, tugu tidak jadi kami bongkar," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.
Rencananya memang ada tiga tugu yang akan dibongkar. Yakni tugu yang berada di Desa/Kecamatan Pakusari, tugu di samping Lapangan Mangli, Kecamatan Kaliwates, dan tugu yang berada di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari. Akan tetapi, hasil rapat memutuskan hanya tugu di Pakusari yang akan dibongkar. Sementara, tugu di dua tempat lain itu sepakat diganti dengan lambang Pancasila.
"Ada dua pilihan. Satu dibongkar dan kedua adalah diganti dengan tulisan atau lambang Pancasila. Tiga ranting ini sudah ditunjuk menjadi percontohan untuk dibongkar. Pengurus juga sudah siap, tetapi sepertinya (Pakusari, Red) belum sosialisasi ke bawah," bebernya.
Dia mengandaikan, jika tugu jadi dibongkar, maka akan muncul dampak yang besar di masyarakat khususnya di Jember. Pihaknya tidak ingin kondusivitas yang sudah terjaga itu kembali keruh. Menurutnya, masalah tugu ini memang butuh perhatian khusus. Meski tidak dibongkar, lanjutnya, akan ada opsi-opsi lain yang bakal dilakukan.
Yang pasti, opsi yang ditawarkan itu tetap disesuaikan dengan imbauan dari Forkopimda Jember. Bisa dengan duduk bareng lagi atau memunculkan opsi lainnya. Misalnya tidak membongkar langsung, tapi merelokasi tugu itu ke lokasi lain yang diizinkan dan sesuai aturan. "Mudah-mudahan lain waktu kami akan koordinasi lagi bagaimana langkah ke depannya," imbuhnya.
Sementara, sebelum warga membubarkan diri, panglima PSHT Jember, Fadjar Sukmono, membakar semangat warganya. Dirinya berorasi cukup lantang soal pembongkaran tugu. Menurutnya, pembongkaran tidak hanya dilakukan oleh PSHT. Tetapi, juga bagi semua perguruan silat yang membangun tugunya hingga bangunan lain di tanah pemerintah. Oleh karenanya, itu bentuk keadilan yang sesungguhnya. "Kita ini masyarakat punya hak pilih, punya hak untuk merdeka. Kami mendukung pemerintahan. Kalau ada perda yang merobohkan tugu dan bangunan yang ada di samping jalan atau tanah pemerintah, maka semuanya harus dirobohkan rata," tegasnya.
Sementara itu, gagalnya pembongkaran tugu perguruan silat menunjukkan masih banyaknya penolakan dari para anggota perguruan silat. Padahal Pemprov Jatim sudah mengeluarkan surat imbauan kepada semua ketua perguruan silat yang ada. Untuk melakukan penertiban atau pembongkaran tugu perguruan yang berada di fasilitas umum.
Pembongkaran tugu tersebut juga sempat menjadi atensi Kapolda Jatim Irjen Pol Toni Harmanto. Bahkan dia memberikan instruksi kepada semua kapolres untuk mempercepat pembongkaran tugu di wilayahnya masing-masing. Hal ini berdasarkan hasil evaluasi, keberadaan tugu tersebut menjadi salah satu pemicu bentrokan antarperguruan silat.
Namun, hingga kini tidak semua anggota perguruan silat di Jember menerima dengan lapang dada tugunya dibongkar begitu saja. Seperti yang dikatakan oleh Muhammad Fadil, anggota Ranting Pakusari. Dia menolak upaya pembongkaran tugu di wilayahnya dengan berbagai alasan. Salah satunya tugu tersebut sudah ada sejak beberapa tahun lalu. “Kami akan berupaya untuk mempertahankan. Karena merupakan tugu pertama yang kami bangun di Pakusari,” kata Fadil.
Bersama para anggota perguruan silat lainnya, Fadil sengaja mengelilingi tugu yang akan dibongkar. Untuk mencegah adanya petugas yang melakukan pembongkaran secara paksa. Hal tersebut menurutnya bukan karena biaya yang dikeluarkan. Melainkan usaha yang dilakukan oleh para anggota. “Kami tempel tugu kami agar tidak ada pembongkaran,” imbuhnya.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Helmi Asror, anggota ranting PSHT Silo. Dengan tegas dia menolak upaya pembongkaran tugu di Jember. Sebab, menurutnya, alasan yang diterimanya dianggap tidak manusiawi. Karena itu, upaya tersebut dianggap tidak perlu dilanjutkan di tugu-tugu yang lain. Jika tetap dipaksa dilakukan pembongkaran, Helmi menilai dapat menyulut kemarahan para anggota PSHT. “Kalau alasan pembongkaran tugu karena menjadi pemicu konflik, ini tidak etis,” pungkasnya. (kin/ham/c2/nur)
Editor : Ivona