KALIWATES, Radar Jember – Mata plus erat kaitannya dengan gangguan mata pada orang dewasa terutama lansia. Meski tak selalu muncul di usia tua, gangguan ini membuat mata tidak bisa fokus melihat objek jarak dekat dan atau jauh. Ini alasan mengapa kita sering melihat orang tua saat membaca sesuatu yang dipegangnya seperti buku atau handphone (HP) akan menjauhkan benda tersebut dari wajahnya.
Dokter spesialis mata Erwanda Fredy menjelaskan, mata plus merupakan salah satu penyakit kelainan reflaksi yang diakibatkan oleh sumbu bola mata yang memendek. Gangguan hipermetropia ini biasanya terjadi di atas usia 40 tahun. Bisa juga karena presbiopi yang menjadi gangguan pengelihatan pada jarak baca. “Jika mata plus atau rabun jauh sumbu matanya lebih pendek, dan kondisi itu berpotensi terjadi sejak lahir karena faktor keturunan,” ucapnya.
Mata plus atau rabun dekat akan berbahaya jika tidak ditangani. Apalagi dibiarkan dalam jangka panjang. Fredy mengatakan, pemulihan mata plus harus dilakukan operasi lasik. Jika tidak, bisa menggunakan kacamata. Namun, tidak bisa menyembuhkan, hanya membantu pengelihatan dan memperlambat penambahan plus.
Seseorang yang pengelihatannya mengalami gangguan tersebut diharuskan pakai kacamata. Jika tidak memakai alat bantu, bisa membuat mata bekerja keras terus menerus. Ini membuat mata jadi cepat lelah. “Lama-kelamaan akan jadi mata malas,” ucap pria yang praktik di Rumah Sakit Bina Sehat itu.
Mata malas atau amblyopia menyebabkan fokus pengelihatan yang dihasilkan kedua bola mata berbeda. Akibat jangka panjang tersebut efeknya bisa berlangsung terus menerus. Mata menjadi susah fokus seperti pada normalnya saat melihat. Saat memakai kacamata sekalipun. “Jika mata malas terjadi pada anak-anak kemungkinan masih bisa dibantu, kalau terjadi pada orang dewasa akan sulit dipulihkan,” kata Dokter Fredy.
Paparan radiasi dari berbagai pancaran sinar elektronik bisa memperparah keadaan sesorang dengan mata rabun. Radiasi ini pengaruhnya terjadi pada permukaan bola mata. Paparan radiasi yang cukup tinggi dan dalam waktu laman dapat membuat mata cepat kering. “Fase akhirnya sama saja, jika tidak ditangani dengan tepat, bisa munculkan sindrom mata malas,” ulasnya. (mg1/sil)
Editor : Radar Digital