SUMBERSARI, Radar Jember - Sosialisasi pencegahan perkawinan usia anak (PUA) terus gencar dilakukan. Namun, mereka yang telanjur menikah pada usia dini juga perlu dibina. Wawasan tentang life skill, kemandirian ekonomi, agama, tata cara berumah tangga, hingga reproduksi diajarkan.
Kepala KUA Sumbersari Muhammad Khoirul Anwar mengatakan, sudah empat bulan pihaknya rutin melakukan pembinaan dalam Mother School Sumbersari (MOSS). Kegiatan yang dilakukan setiap Kamis itu merupakan pengembangan dari MOSS pertama yang sudah lebih awal berdiri. Ada sepuluh pasangan yang berhasil direkrut. Usia mereka saat menikah di bawah 19 tahun dan sudah melampirkan dispensasi kawin (diska).
Semua peserta MOSS 3 berasal dari kelurahan yang ada di Kecamatan Sumbersari. Dia mengatakan, program inovasi tersebut sebagai bentuk revitalisasi untuk mengembalikan peran KUA yang tidak hanya menikahkan. “Tetapi, juga memberdayakan, ada penguatan keluarga juga,” kata Khoirul.
Kegiatan utamanya adalah pembinaan life skill. Tujuannya membantu perekonomian keluarga ke depannya. Dalam setiap pertemuan mereka dilatih keterampilannya dalam membuat produk yang bisa dipasarkan. Misalnya kerajinan, bertani hidroponik, dan pembuatan roti. “Targetnya adalah kemandirian ekonomi keluarga muda. Kami bekali untuk berwirausaha lokal di tempat masing-masing,” terangnya.
Apabila bekal yang diberikan sudah dirasa cukup, peserta akan dilepas. Selanjutnya, pihak KUA akan merekrut peserta baru. “Dengan adanya sepuluh orang adalah langkah bagus untuk mengawali pembinaan. Ke depan akan kami tingkatkan lagi jumlahnya,” ucapnya.
Materi lain yang disampaikan dalam MOSS 3 ialah pembekalan ilmu agama. Seperti melatih salat yang baik dan benar, pengembangan bacaan Alquran, hingga pengajian mengenai tata cara bina keluarga menurut Islam. Semuanya dimentori oleh penyuluh agama Islam KUA Sumbersari dan tujuh mentor lainnya. Pada pertemuan tertentu, narasumber dari pihak eksternal juga didatangkan.
Wawasan tentang kesehatan reproduksi secara tidak langsung diselipkan dalam setiap pembinaan. Khoirul menjelaskan, mereka diajarkan cara yang baik mengatur jarak kelahiran anak dan mengatur rencana anak yang akan dilahirkan.
Lebih lanjut, Khoirul mengatakan, pada awal pertemuan sikap dan pemikiran, para peserta masih kekanak-kanakan. Hal itu terlihat saat berinteraksi dalam kegiatan. Perlahan, kata dia, dengan adanya edukasi, sudah mulai tampak tanggung jawab mereka sebagai orang tua. Ke depan, rencananya inovasi tersebut akan diwajibkan bagi yang menikah di bawah usia ideal. (sil/c2/dwi)
Editor : Radar Digital