KEPATIHAN, Radar Jember - Cakupan pelanggan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Pandalungan Jember belum menjangkau seluruh kawasan di Jember. Dari potensi 31 kecamatan yang ada, hingga saat ini cakupannya masih 13 kecamatan saja. Hal itu, dibutuhkan upaya lebih agar terus bertambah dari waktu ke waktu. Meski harus menghadapi kendala utama, yaitu air baku.
Hal tersebut dikatakan oleh Miftahur Ridho, Direktur Utama Perumdam Tirta Pandalungan Jember. Menurutnya, saat ini kendala yang sedang dihadapi adalah minimnya air baku yang ada. Dari modul Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) air baku adalah air bersih yang kegunaannya untuk air minum. Dari 100 persen air yang diolah PDAM Jember, 60 persen di antaranya didapatkan dari sungai pengolahan. Sementara, sisanya diambil dari mata air yang termasuk air baku. Hal itu membuatnya kesulitan untuk menjual air kepada masyarakat.
Ridho juga menegaskan, persoalan air baku masih menjadi pekerjaan rumah PDAM Jember yang harus segera diselesaikan. Namun, dia mengaku tidak mau tinggal diam. Pria kelahiran Banyuwangi itu mengaku akan memperluas dan meningkatkan produksi suplai air baku. Meskipun ada beberapa kendala yang harus dihadapi, salah satunya biaya. “Meningkatkan air baku tidak murah. Perlu investasi miliaran rupiah. Sementara, kami masih dipercaya mengelola keuangan mandiri,” jelasnya.
Artinya, pengelolaan keuangan yang ada didapatkan dari laba selama satu tahun. Hal itu juga baru bisa digunakan untuk tahun selanjutnya. Untuk mencukupi biaya produksi, dia mengaku harus melakukan efisiensi. “Kami belum mendapatkan hibah, baik dari APBD maupun APBN,” imbuhnya.
Meski begitu, pola yang diterapkan saat ini memiliki beberapa sisi positif. Salah satunya tidak banyak hal yang dipertanggungjawabkan, yang harus disampaikan. Sebab, dilakukan secara mandiri seperti perusahaan pada umumnya.
Untuk mencukupi kebutuhan air baku, menurutnya, diperlukan langkah kreatif lain. Tidak sebatas berjualan dan memperbanyak pelanggan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menggandeng investor, seperti bekerja sama dengan developer perumahan. “Kami bangun sumber bersama. Kalau airnya berlebih, sekian persen untuk perumahan, sekian persen untuk masyarakat,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)
Editor : Radar Digital