JEMBER LOR, Radar Jember – Ada yang unik dalam upacara Hari Ulang Tahun Ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) yang digelar di Alun-Alun Jember, kemarin. Hal tersebut karena Bupati Jember Hendy Siswanto yang menjadi inspektur upacara tampil tak biasa. Dia mengenakan pakaian adat ala Raja Minahasa, sehingga menyita perhatian peserta upacara dan ribuan warga.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, Bupati Hendy terlihat mengenakan baju dengan rumbai-rumbai berwarna merah, lengkap dengan pedang di punggungnya. Selain itu, dia juga menggunakan penutup kepala yang dihiasi bulu-bulu, sehingga terlihat seperti mahkota dan ada ornamen tengkorak. Diketahui, pakaian adat yang dikenakan oleh bupati itu merupakan pakaian adat ala Raja Minahasa dari Sulawesi Utara.
Penggunaan pakaian itu ternyata bukan tanpa maksud, melainkan sebagai simbol untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat Jember. Khususnya menjelang tahun politik 2024 mendatang, karena biasanya muncul gangguan kamtibmas. Selain itu, pakaian adat itu biasanya digunakan oleh raja di Minahasa ketika menjaga daerah. “Seorang pemimpin yang baik harus menjadi abdi masyarakat,” tegasnya.
Dalam momen tersebut, bupati mengajak seluruh masyarakat untuk mengingat kembali perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan kemerdekaan. Sebagai generasi penerus, selayaknya bisa dan mampu untuk membawa bangsa menjadi bangsa yang besar. Serta memiliki kekuatan yang tak kalah dengan bangsa lain. Hal itu dinilai penting, karena menurutnya, saat ini Indonesia membutuhkan anak muda yang kreatif dan inovatif untuk andil dalam persaingan global. Perjuangan saat ini, menurutnya, tak sekadar menjaga ancaman dari luar, namun juga menjaga serangan dari segala lini. “Dulu mungkin berjuang melawan penjajah dengan senjata, saat ini kita berjuang menggunakan otak,” ucapnya.
Selain melakukan upacara pengibaran dan penurunan bendera merah putih, Pemkab Jember juga menggelar pertunjukan drama kolosal. Menceritakan perjuangan masyarakat Sadeng dalam melawan dominasi Kerajaan Majapahit, demi meraih kemerdekaan. Sampai akhirnya tercetus adanya Sumpah Palapa. Sontak, pertunjukan tersebut menyita perhatian masyarakat dan penonton yang menyaksikan. “Sampai merinding saya melihat aksi dalam drama kolosal itu,” kata Prasetya, salah seorang warga Jember.
Yoga Ardanu, sutradara pertunjukan drama kolosal itu, mengatakan, dari peristiwa Perang Sadeng itu banyak pelajaran yang bisa diambil. Seperti semangat bela kerajaan. Nah, dalam konteks peringatan HUT ke-78 RI ini, menurutnya, semangat juang membela negara petut dimiliki oleh semua warga Jember dan Indonesia. “Jangan ada lagi perselisihan dan peperangan. Kemerdekaan itu adalah hak setiap bangsa,” tuturnya. (mg3/ham/c2/nur)
Editor : Radar Digital