Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Melihat Toleransi Beragama di SD Shinta Jember, Siswa dari Lima Agama Terbiasa Saling Tolong

Radar Digital • Rabu, 16 Agustus 2023 | 17:40 WIB

 

MAIN BERSAMA: Anak-anak mengikuti kegiatan sekolah dalam momen agustusan di SD Shinta, Lingkungan Talangsari, Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates Kaliwates, pekan lalu (12/8).
MAIN BERSAMA: Anak-anak mengikuti kegiatan sekolah dalam momen agustusan di SD Shinta, Lingkungan Talangsari, Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates Kaliwates, pekan lalu (12/8).
 

Menghargai setiap perbedaan sudah sepatutnya dilakukan setiap orang. Bahkan, diajarkan sedini mungkin di sekolah. Berikut, potret bagaimana toleransi itu dilakukan oleh anak-anak. Mulai dari mempelajari sampai menerapkan.

KABUT tipis pagi itu menyelimuti sekitar ruas Jalan KH Shiddiq di Lingkungan Talangsari, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, sekitar pukul 6 pagi. Beberapa anak sekolah lalu lalang di sekitar jalanan tersebut. Ada yang berangkat sendiri, ada yang diantar. Itu terlihat dari seragam sekolah yang mereka kenakan.

Tak berselang lama, terlihat puluhan anak di seberang jalan ramai-ramai masuk ke sebuah kompleks sekolah. Mereka berpakaian seragam olahraga, bermotif merah putih, sambil membawa bendera merah putih kecil. Seperti tengah merayakan HUT ke-78 Indonesia. "Assalamualaikum, shalom, shalom. Assalamualaikum," sahut suara anak-anak bergantian, sambil masuk ke SD Shinta, di sekitar Jalan KH Achmad Shiddiq, Talangsari, itu.

Jawa Pos Radar Jember mendatangi dan masuk ke sekolah itu. Di pintu awal, terpajang beragam pernak-pernik khas mainan anak-anak. Ornamen dan hiasan di dinding, dan beberapa lainnya yang full colour. Sekolah swasta dengan gedung yang sederhana ini tampak kecil dan tak terlalu besar untuk ukuran SD. Jumlah siswanya pun tak banyak. Dari kelas 1 sampai 6, keseluruhan hanya 58 siswa.

"Ayo, anak-anak, semua ikuti arahan ibu guru. Kita baris," pinta seorang guru melalui pelantang suara, mengajak anak-anak senam, Sabtu pagi itu (12/8). Lalu, anak-anak pun perlahan merapat, mengikuti instruksi sang guru. Ada yang mengenakan kaus biasa, pun ada yang berjilbab.

Toleransi terhadap keberagaman agama dan kebudayaan begitu terlihat di sekolah itu. Selepas senam, mereka menyantap bekal makanan. Tak lupa, sebelum makan beberapa anak terlihat berdoa, dengan caranya masing-masing.

Nuansa keberagaman itu juga terlihat dari beberapa sudut ruangan di sekolah itu. Ada ruang khusus bertuliskan “Agama Islam”. Dan ada ruang khusus bertuliskan “Agama Kristen dan Katolik”. Termasuk untuk Hindu dan Buddha, juga ada.

Diketahui, siswa di sekolah itu memang berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama. Ada yang asli Jawa, chinese atau Tionghoa, dan ada pula yang Madura. Sebagian wali siswa menyebutnya sekolah Pancasila. Sebab, muridnya berasal dari berbagai latarbelakang suku dan agama yang berbeda. Mulai dari Buddha, Hindu, Katolik, Kristen Protestan, hingga Islam.

"Model belajarnya katanya berdasarkan Pancasila, dan itu menurut saya pilihan yang terbaik, karena saya menyadari bahwa anak saya lain, karena beragama Hindu," tutur Luh Mega Wulandari, salah satu wali murid di sekolah itu.

Mega mengaku nyaman dan aman menyekolahkan buah hatinya, I Kadek Moreno Sidemen, bersama anak-anak lainnya di situ. Meski memiliki keyakinan berbeda, ia tak khawatir. Bahkan, ia beserta anaknya sudah terbiasa mengikuti kegiatan sekolah dalam perayaan hari keagamaan lain. "Anak saya tidak pernah dikucilkan, meskipun kami Hindu, karena saat pelajaran agama, sudah disendirikan. Berdasarkan agama masing-masing siswa," aku warga asal Perumahan Taman Gading, Tegal Besar, itu.

Disebut menerapkan pembelajaran Pancasila, salah satu yang diajarkan yakni tentang standar salam keberagaman yang biasa dilakukan oleh guru di sana. Yakni, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera bagi kita semua, shalom, om swastiastu. Namo buddhaya, salam kebajikan. "Standar salam itu mereka hapal karena mungkin sering mendengarkan dari guru," sebut Vivi Setiya Dewi, kepala SD Shinta.

Meski nama sekolahnya tidak sedikit pun mengadopsi nama Arab atau nama dalam Alquran, Vivi menyebut mayoritas siswa di sana justru muslim. Kemudian, diikuti ada Kristen, Katolik, dan Hindu. "Kalau untuk Buddha, di tahun ajaran ini belum ada. Kalau agama lainnya, semua ada," kata Vivi.

Pada perayaan hari raya keagamaan, para siswa disebutnya sering kali dilibatkan untuk saling mendukung satu dan lainnya. Seperti pada saat Idul Fitri, Isra Mikraj, Maulid Nabi. "Termasuk barongsai juga rutin digelar, tapi pasca-Covid ini kita perlahan menghidupkan lagi," katanya.

Bahkan pada April 2023 lalu, saat perayaan Paskah yang berbarengan dengan bulan Ramadan, para siswa juga dilibatkan dan diberikan kesempatan waktu. "April kemarin, kita merayakan Paskah, yang muslim itu kita buka bersama. Dan puji Tuhan, anak-anak sudah terbiasa tolong-menolong, mereka berbagi. Di situ kita melihatnya damai," pungkas dia. (c2/nur)

Editor : Radar Digital
#toleransi beragama #Kabupaten Jember