Sejak masih duduk di bangku SD dulu, perempuan yang akrab dipanggil Diwanti itu sudah memiliki niat, jika besar nanti ingin menjadi dokter. Namun, pada saat itu belum terpikirkan dokter apa yang dia inginkan kala itu. “Namanya juga masih anak-anak dulu. Intinya pengen jadi dokter seperti cita-cita anak pada umumnya,” terangnya.
Minatnya untuk bekerja di bidang kesehatan, Diwanti mengaku, tumbuh ketika sering mengikuti program ekstrakulikuler di SD. Yakni ekstrakulikuler pembinaan science atau kesehatan. Tak hanya itu, dia juga aktif dalam ekstrakulikuler kesenian. Tidak jarang kala itu dia mengikuti perlombaan yang sesuai dengan ekstrakulikuler yang dia ikuti. Dari situ minatnya untuk terjun ke dunia kesehatan terbawa hingga duduk di bangku SMA.
Hingga saat itu perempuan usia 31 tahun itu mulai memiliki tekad yang kuat untuk menjadi seorang dokter. Bahkan, ketika masih duduk di bangku SMA, dia juga mulai memikirkan profesi apa yang bisa mencakup bidang kesenian dan kesehatan. “Setelah berpikir panjang, waktu itu, saya menemukan kalau dokter gigi cocok untuk difokusi ke depan,” ungkapnya.
Tidak memungkiri apa yang sudah diimpikan sejak anak-anak, mungkin cita-cita itu terdengar tidak gampang untuk dicapai. Namun, dengan berbagai dorongan dan upaya yang sudah dilalui semasa duduk di bangku sekolah, Diwanti memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Jember (Unej). Tidak lain lagi yakni mengambil Program S-1 Kedokteran Gigi hingga mengikuti program profesi selama enam tahun.
Dari situ, dirinya mulai termotivasi besar untuk berkarir di bidang kedokteran gigi. Menurutnya, bekerja sebagai dokter gigi tidak bisa hanya mengandalkan kecerdasan. Namun, skill juga harus selalu diasah. Mengingat, saat ini dokter gigi tidak hanya dicari untuk pengobatan sakit gigi. Namun, masyarakat mulai memahami bagaimana agar gigi bisa kembali estetik atau indah saat dipandang. “Bahkan saat ini menambal gigi seseorang sudah ibarat kita mengukir sesuatu agar tampak seperti bentuk aslinya. Jadi, selain ilmu teori, kita memang membutuhkan rasa seni,” jelasnya.
Tak sedikit pengalaman unik yang dia alami selama menjadi seorang dokter gigi. Salah satunya saat melakukan penyuluhan kesehatan gigi kepada masyarakat. Diwanti mengaku, di era modern seperti saat ini ternyata masih ada orang yang menggosok gigi dengan batu bata. Bahkan ada juga yang menggunakan satu sikat gigi untuk satu keluarga.
Selain itu, dia juga sempat menemukan beberapa pasien yang masih percaya mitos bahwa pencabutan gigi pada rahang atas akan berdampak pada kesehatan mata. “Saya kaget ketika mengetahui hal itu, ternyata masih ada. Untuk itu, sebagai dokter gigi saya akan lebih meningkatkan edukasi kesehatan gigi kepada masyarakat,” pungkasnya. (qal/c2/nur)
Editor : Safitri