SUMBERSARI, Radar Jember - Rencana pemerintah daerah hendak membuat pabrik pupuk organik di Jember sejauh ini belum mendapat respons positif dari beberapa anggota dewan. Alasannya sederhana, karena pupuk organik itu bisa dibuat sendiri oleh petani.
"Rencana pembangunan pabrik pupuk organik itu sebenarnya kita arahkan ke pelatihan, pembuatan, dan pemakaian pupuk organik untuk petani," kata Anggota Komisi B DPRD Jember, Nyoman Aribowo, ketika dikonfirmasi, belum lama ini.
Menurut dia, hal yang justru dianggapnya penting adalah mengedukasi petani agar terdorong menggunakan pupuk organik tersebut. Sebab, mayoritas petani dianggapnya sudah bisa memproduksi pupuk organik sendiri ataupun melalui poktan/gapoktan yang diikutinya. Terlebih bahannya melimpah dan mudah dicari.
Komisi B selaku mitra Dinas Pertanian, lanjut dia, belum mendengar kabar terbaru terkait rencana pembangunan pabrik pupuk organik di Jember tahun 2023 ini. Terlebih, anggaran yang melekat di Dinas Pertanian dianggapnya cukup kecil. "Kami masih meyakini, akan lebih baik jika pemerintah membuat pelatihan dan mengedukasi penggunaan pupuk organik di lahan, ketimbang sekedar membangun pabrik. Itu bisa nanti," katanya.
Komisi B sepertinya mengkhawatirkan jika nantinya pabrik pupuk organik berdiri, justru di tengah jalan berhenti lantaran tidak diminati oleh petani. Sebab, persoalan penggunaan pupuk organik itu lebih ke arah mau atau tidaknya petani menggunakan.
"Kita bisa belajar dari sejarah, pemerintah pusat pernah menyubsidi pupuk organik yang itu dilakukan pabrik-pabrik di daerah-daerah, dan itu sekarang berhenti. Artinya, kesadaran dan kemauan petani menggunakan pupuk organik ini perlu diedukasi dulu. Jangan sampai pabrik sudah berdiri, ternyata petani tidak siap," katanya.
Dalam rencana di pembahasan Perubahan APBD Tahun 2023 nanti, mayoritas anggota Komisi B dinilai Nyoman dalam posisi kurang setuju terhadap rencana pabrik pupuk itu pada tahun ini. "Ini masalah prioritas saja. Kalau saya pribadi, dan mudah-mudahan Komisi B lainnya berkomitmen sama, tidak mendorong pabriknya. Namun, mendorong ke arah mengedukasi terlebih dahulu," pungkas dia. (mau/c2/nur)
Editor : Safitri