Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Melihat Aktivitas Buruh Pemecah Batu di Kali Jompo Jember, Hat-Hati Serpihan Batu Jangan sampai Masuk ke Mata

Radar Digital • Sabtu, 8 Juli 2023 | 20:00 WIB

 

KERJA KERAS: Solihin, buruh pemecah batu, menggunakan palu untuk memecah batu di Sungai Jompo, Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi.
KERJA KERAS: Solihin, buruh pemecah batu, menggunakan palu untuk memecah batu di Sungai Jompo, Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi.

Meningkatnya pembangunan hunian juga berdampak pada permintaan bahan material, salah satunya batu. Ternyata batu yang dipakai untuk fondasi, salah satunya dari batu sungai yang dipecah secara manual. Lantas, seperti apa aktivitas para buruh pemecah batu itu?

WAHANA DJALU, Klungkung – Radar Jember

SUARA palu memecah batu mulai terdengar di sepanjang Kali Jompo, di Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi. Desa yang berada di kaki Pegunungan Argopuro tersebut dilintasi sejumlah sungai yang menjadi penghidupan masyarakat. Salah satunya para buruh pemecah batu.

Wajah mereka rasanya sudah akrab dengan kelelahan, sebab menjadi rutinitas mereka setiap hari. Seiring waktu berlalu, mereka menorehkan kisah hidup yang penuh perjuangan di antara batu-batu yang hancur.

Sejak pagi hari, buruh pemecah batu berkumpul di tepi Kali Jompo, Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi. Dengan tenaga dan ketangkasan yang luar biasa, mereka mulai mengambil palu dengan ukuran besar.

Mereka satu per satu memukul batu-batu sungai berukuran besar. Panas matahari tak menghalangi semangat mereka dalam mencari nafkah. Setiap hujaman palu memberikan harapan bagi mereka untuk menghidupi keluarga di rumah.

Muhammad Solihun, salah satu buruh pemecah batu yang berasal dari Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, terpaksa bekerja sebagai pemecah batu. Walau tampaknya minim risiko, hanya mengeluarkan tenaga besar dalam memecah batu, sejatinya ada risiko serpihan batu bisa kapan saja melukai kulit, bahkan mata sekali pun.

“Serpihan batu ini tajam. Tangan dan kaki terluka itu biasa. Paling bahaya itu masuk ke mata,” terangnya.

Walau Solihun kerja keras, namun belum tentu pulang mendapatkan rupiah. Sebab, pekerjaan tersebut belum tentu langsung mendapatkan pembeli.

“Kalau tidak ada pesanan tidak dapat uang. Kalau pesanan banyak juga repot. Karena pecah batu ini pakai tenaga manusia, bukan mesin,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat mereka hidup dalam ketidakstabilan ekonomi. "Kadang setiap minggu ada tiga kali yang ambil batunya, kadang juga tidak ada," ucap Solihun sambil menyapu keringat di dahinya.

Meski demikian, di tengah kehidupan yang keras, ada kebersamaan yang terjalin di antara para buruh pemecah batu. Mereka saling membantu satu sama lain.

"Kadang sama-sama mengumpulkan batu biar cepat. Untuk satu truk itu sekitar Rp 400 ribu dan nanti dibagi hasilnya," ujar Solihun.

Pada sore hari, ketika langit mulai berubah warna, Solihun dan buruh pemecah batu lain menyimpan alat-alat mereka dan kembali ke rumah. Mereka menutup hari dengan lelah yang tak terkira. "Sekitar jam 3 sore sudah pulang," ujar Solihun. (c2)

Editor : Radar Digital
#Jember #Kali Jompo