Kopi keliling (kopling) bukan hal baru di telinga warga Jember. Biasanya, mereka berdagang di jantung kota. Tapi kopling yang ini berbeda. Jualannya sampai ke pinggir sungai bahkan ke tengah kebun.
WAHANA DJALU, Klungkung, Radar Jember
TERIK matahari siang itu menembus pohon-pohon sengon di pinggir sungai. Bahkan, lebatnya dedaunan di dalam hutan juga tak luput dari sinarnya. Gemercik air di pinggir sungai hulu Kali Jompo itu menambah suasana asri, dekat hutan karet.
Di bawah rimbun pepohonan itu, ada aroma kopi yang memikat. Berasal dari penjual kopling bernama Abdul Fattah.
Pria asal Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang, itu oleh warga setempat akrab dipanggil Cak Doel. Maklum, pria murah senyum itu sudah cukup lama berjualan kopi hingga pelosok desa. Ya, sasaran konsumennya memang beda, yaitu orang yang jauh dari keramaian.
Setiap hari, Doel berkeliling menjajakan kopi di pinggir sungai, di tengah kebun, di areal persawahan, hingga masuk ke dalam hutan karet. Saat itu dia berada di sekitar Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi.
Kopling yang dia jual dibawa dengan sepeda motor matik. Keluaran terbaru. Dia desain khusus. Lengkap dengan keranjang butut untuk memuat kopi dan peralatannya.
Doel berangkat dari rumahnya cukup pagi. Yaitu pukul 08.00. Dia kemudian menuju kawasan hutan karet yang terletak di hulu Kali Jompo. Di sana, dia menghampiri warga yang bekerja, beristirahat, atau sekadar bermain. Setiap ada orang dia selalu menawarkan kopi yang dijual.
Pria yang mengenakan topi dan kaus hitam itu menyebut, kopi yang dijual terdiri atas beberapa macam. Ada kopi hitam dan kopi susu. Ada yang sasetan dan ada kopi bubuk yang dibuat warga di sekitar rumahnya. “Kebanyakan bawa kopi saset,” kata Doel.
Nah, waktu pagi sampai siang, biasanya hanya ada satu dua orang yang membeli kopi. Kondisi ini berbeda saat memasuki waktu sore. Menurutnya, pada pukul 16.00 sampai 17.00, banyak warga yang datang ke pinggir sungai sekitar kebun karet.
“Saya juga heran masih ada orang yang mengunjungi hutan karet sampai sore,” jelasnya.
Dikatakannya, meski dia berjualan di tempat-tempat yang sepi, namun ada saja pembelinya. Doel mengaku, ada daya tarik tersendiri saat berjualan kopi di kawasan yang jauh dari perkampungan, yakni tidak ada kopi.
Apalagi, di tengah hutan karet, kebun tebu, dan pinggir sungai dengan bebatuan, dapat dipastikan tidak ada orang jual kopi.
Hal itulah yang membuatnya yakin bahwa jualan kopi sampai ke daerah pinggiran akan tetap ada yang membeli. “Rezeki sudah ada yang mengatur. Kan enak ngopi di tempat santai begini daripada di tempat ramai,” ucapnya sambil menyeduh kopi pesanan sejumlah warga.
Pembeli kopi Cak Doel ini sebagian besar petani dan sebagian lagi adalah warga yang santai di sekitar sungai. Sore itu, saat kami asyik berbincang dengan Doel, ada sekelompok anak muda berdatangan. Mereka sedang libur sekolah dan banyak yang bermain di sekitar hutan karet.
Dia mengaku menyukai berjualan di tempat-tempat yang tak lazim didatangi penjual pada umumnya. Dia terinspirasi dengan banyaknya kafe di pinggir sawah. Dia kemudian membawa versi kecil dari kafe dengan kopling.
Dia melihat peluang karena tak ada yang berjualan kopi sampai ke pelosok desa bahkan di sekitar hutan. “Orang-orang bisa ngopi sambil menikmati suasana yang tenang dan damai,” jelasnya, kemudian tertawa.
Doel pun saat itu sudah mengantongi hasil penjualan belasan gelas kopi. Menjelang waktu petang, dia tetap semangat mengantarkan kopi pesanan pembeli dengan nampan merah kecil.
Sementara itu, Rian, pembeli kopi asal Desa Antirogo, Kelurahan Sumbersari, mengaku pergi ke hutan karet bersama dengan temannya. Dia pun cukup terkejut saat sedang asyik bermain di sungai, melihat ada penjual kopi.
Dia akhirnya memesan dua gelas kopi. “Saya kaget, kan aneh jual kopi di hutan begini,” ucapnya.
Rian dan beberapa orang di pinggir sungai itu pun menikmati kopi dengan santai. Suasana sejuk nan damai khas hutan karet, ditambah secangkir kopi hangat, semakin melengkapi liburan sejumlah anak muda tersebut.
Rian mengaku senang karena bisa ngopi walaupun ada di sekitar hutan. (c2/nur)
Editor : Radar Digital