Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jember Prof Aminullah menyebut, Majelis Tarjih Muhammadiyah sudah menetapkan 1 Zulhijah jatuh pada Senin (19/6). Sehingga, pelaksanaan salat Idul Adha dilakukan tepat pada Rabu pagi.
Ketetapan tersebut, kata dia, berdasarkan sistem hisab wujudul hilal sebagai pedoman Muhammadiyah dalam menentukan bulan-bulan Qamariah. “Sementara pemerintah menentukan berdasarkan rukyat dengan ketentuan ketinggian hilal minimal tiga derajat. Inilah yang menjadikan perbedaan,” jelasnya.
Menurutnya, perbedaan pendapat tersebut sudah biasa terjadi. Sehingga, kata dia, masyarakat perlu mengetahui apa yang menyebabkan perbedaan tersebut. Dijelaskan, Pemerintah Arab Saudi juga menetapkan 10 Zulhijah terjadi pada Rabu. “9 Zulhijah, jemaah haji di Arab Saudi telah meninggalkan Arafah dan berada di Mina pada 10 Zulhijah,” tambahnya.
Amin mengatakan, hal yang lebih penting ialah sikap yang ditunjukkan melihat perbedaan tersebut. Bimbingan, kata dia, juga perlu dilakukan kepada masyarakat untuk meyakini apa yang sudah ditetapkan oleh para ulama masing-masing. “Warga Muhammadiyah meyakini apa yang ditetapkan oleh Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, masyarakat yang tergabung dalam NU mengikuti ulama yang berprinsip pada Inka Nuru’iyah,” terangnya.
Adanya perbedaan itu menurutnya tidak perlu diperdebatkan. Apalagi membuat perpecahan di tengah masyarakat. Ijtihad yang serius, tambahnya, menjadi pedoman yang bisa mendasari agar tidak ada kebencian yang hanya karena suka atau tidak suka belaka. “Mudah-mudahan masyarakat kita semakin dewasa di dalam menghadapi perbedaan,” harapnya.
Pelaksanaan salat Idul Adha warga Muhammadiyah sedianya dilakukan Rabu. Namun, penyembelihan hewan kurban baru akan dilaksanakan Kamis (29/6).
Kepala LPAIK Universitas Muhammadiyah Jember Dhian Wahana Putra mengungkapkan, seluruh warga Muhammadiyah, khususnya di Jember, akan sama-sama menyembelih hewan kurban pada Kamis. Hal ini sebagai wujud toleransi. “Imbauan tersebut dari PP Muhammadiyah untuk menghormati ormas lain yang Hari Raya Idul Adha pada 29 Juni,” jelas Dhian.
Terpisah, Wakil Ketua PCNU Jember Dr Ahmad Taufiq mengatakan, pengurus NU belum bisa seratus persen menetapkan hari-H Idul Adha. Sejak kemarin, kata dia, rukyatul hilal sudah mulai disiapkan di sejumlah titik. Sehingga, penetapan pastinya menunggu hasil rukyat. “Kalau wacana umumnya memang begitu (Kamis, Red),” tuturnya, sore kemarin.
Menurutnya, perbedaan ketetapan hari raya tidak perlu dipermasalahkan. Sebab, sudah menjadi hal wajar yang sering terjadi. Setiap ormas maupun warga memiliki pandangannya sendiri-sendiri dalam menentukan pilihan. “Yang terpenting, masing-masing ormas dan umat bisa saling memahami dan rukun,” ucap Taufiq. (sil/c2/nur)
Editor : Safitri