Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Lokasi Langganan Kekeringan di Jember Belum Teratasi, Hingga Membuat Beberapa Sumur Mengering

Ivona • Senin, 26 Juni 2023 | 19:21 WIB

SUMUR MENGERING: Warga hendak mengambil air, namun sumurnya kering. Lokasi Langganan Kekeringan Belum Teratasi
SUMUR MENGERING: Warga hendak mengambil air, namun sumurnya kering. Lokasi Langganan Kekeringan Belum Teratasi
Patrang, RADARJEMBER.ID -.SUMUR dengan kedalaman delapan meter itu kini hanya menyisakan sedikit air. Jika terus-menerus digunakan, maka tidak tertutup kemungkinan masyarakat akan kembali mengalami kekurangan air bersih. Ya, hal itu terjadi di Lingkungan Darungan, Kelurahan/Kecamatan Patrang. Beberapa waktu lalu, akibat kejadian itu masyarakat harus mandi dan mencuci ke sungai. Jaraknya pun terbilang cukup jauh dari permukiman.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, kurang lebih ada 45 kepala keluarga (KK) yang terdampak peristiwa tahunan itu. Kurang lebih ada 20 sumur yang dibangun oleh masyarakat di RT 2 RW 2, yang terdampak kekurangan air bersih. Satu sumur biasanya digunakan untuk dua KK atau lebih. Dari jumlah tersebut, hanya 16 sumur yang mulai bisa digunakan sebagaimana mestinya.

Mastura, salah seorang warga Darungan, Kelurahan Patrang, mengatakan, kekurangan air bersih memang sudah dirasakan sejak beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal itu sudah biasa dirasakan oleh masyarakat saat musim kemarau datang. Itu karena sumur yang ada biasanya airnya akan mengering. “Jadi susah, biasanya harus cari air ke sungai untuk mandi dan lainnya,” imbuhnya.

Jarak antara rumah dengan sungai dinilainya cukup jauh. Hal itu membuat dia berharap pemerintah bisa memberikan solusi yang berkelanjutan. Misalnya dengan membuat sumur bor geolistrik dan sebagainya. Supaya ketika kemarau tiba, ada alternatif bagi warga dalam memenuhi air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. “Dari sini ke sungai itu jaraknya sekilo lebih kalau gak salah,” katanya.

Sementara itu, Munir, Ketua RW 2 Darungan, mengatakan, air di sumur warga mulai mengiring kurang lebih sejak 20 hari lalu. Namun, mulai terisi ketika ada dropping air dari instansi terkait. Hal itu karena warga tidak menggunakan sumurnya untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga debit air mengalami peningkatan. Namun, tidak tertutup kemungkinan akan kembali habis. “Kalau tahun-tahun kemarin sek cukup. Tapi kalau tahun ini gak cukup. paling parah memang,” tegasnya.

Biasanya ketika musim kemarau dan air bersih sulit didapatkan, warga akan mandi dan mencuci di sungai. Sementara untuk minum, memasak, dan sebagainya warga akan membeli. Oleh sebab itu, meski sumurnya sudah mulai terisi kembali, Munir masih khawatir jika dropping air bersih dihentikan. Air sumur juga akan kembali berkurang bahkan mengering seperti beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, dia juga menegaskan, untuk mengatasi masalah kekurangan air bersih saat musim kemarau, sebenarnya tidak cukup hanya dengan dropping air. Dari hal itu, Munir juga berharap pemerintah bisa membangun sumur bor geolistrik untuk mencukupi kebutuhan warga sehari-hari. “Lahan sudah kami siapkan jika memang mau membangun sumur bor geolistrik,” ucapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Lurah Patrang Betty Wulandari menyampaikan, selain Darungan, sebenarnya ada beberapa wilayah lain yang biasanya juga mengalami kekurangan air bersih setiap tahun. Salah satunya di Jalan Tegal Batu, Lingkungan Patrang Tengah. Kemudian, di jalan Dr Subandi, Gang Gudang Garam, meski saat ini kebutuhan air di tempat itu masih tercukupi.

Dikonfirmasi terkait adanya harapan dari masyarakat tentang keinginan memiliki sumur bor geolistrik, dia mengaku masih terus berkomunikasi dengan Dinas Cipta Karya serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait lainnya. Tidak disebutkan secara terperinci bagaimana mekanisme pembuatan dan sebagainya. “Kami masih berupaya terus. Mudah-mudahan ada jalan keluar terbaik,” pungkasnya. (c2/nur)

Editor : Ivona
#Jember #Kemarau #sumur #Kekeringan