KEPATIHAN, Radar Jember - Bupati Jember Hendy Siswanto mengakui bahwa Pemkab Jember belum bisa maksimal menyentuh pasar tradisional. Dalam hal itu, Pemkab Jember baru akan merevitalisasi pasar tradisional pada tahun 2023 dan 2024 mendatang. Untuk saat ini, masih dalam proses perencanaan bersama pihak terkait untuk bekerja sama.
Bupati Hendy menegaskan bahwa Pemkab Jember telah menyepakati nota kesepahaman bersama pihak ketiga. Kesepakatan itu sebagai salah satu langkah pemkab merevitalisasi pasar tradisional. “Partner yang kita ambil dari Bandung mau mengelola beberapa pasar, sudah memorandum of understanding (MoU), tapi belum ada gerak cepat,” terang bupati.
Jika rekanan tersebut tidak segera bergerak, Bupati Hendy menegaskan, Pemkab Jember akan melangkah untuk merevitalisasi sendiri pasar tradisional secara profesional.
Pihaknya yakin tidak terlalu sulit untuk melakukan itu semua. Sebab, jika terus menunggu rekanan untuk bergerak, bisa dipastikan membutuhkan waktu lama.
Berdasarkan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jember 2021–2026, ada 22 pasar tradisional yang sudah direvitalisasi pada 2019.
Selain itu, ada 30 unit pasar tradisional yang buka selama 18 jam per hari pada 2020. Namun, pada 2020 tidak ada revitalisasi sama sekali di Jember.
Pasar tradisional adalah bagian dari kunci kekuatan di luar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, pasar tradisional harus diam di tempat, berbeda dengan UMKM yang pasarnya bisa ke mana saja.
Oleh karenanya, harus ada sentuhan yang bagus dari pemerintah. “Tujuannya jelas, untuk membuat kenyamanan pembeli dan penjual di pasar,” imbuhnya.
Bupati Hendy juga mengakui bahwa kebijakan saat ini terkesan lebih memihak pada pelaku UMKM dan PKL. Namun, lepas dari semua itu bupati menegaskan, kebijakan saat ini yang lebih banyak dinikmati UMKM tak lepas dari kondisi pascapandemi. Sebab, UMKM dan PKL merupakan kekuatan sosial. (qal/c2/bud)
Editor : Safitri