BACA JUGA : Kabar Baik, Tersedia Layanan Khitan untuk Sang Buah Hati di RSU Kaliwates
Mungkin Dedy merupakan satu-satunya CJH asal Jember, bahkan Indonesia, yang latar belakang kesehariannya berkerja sebagai juru racik barang-barang keras, alias tukang las. Dedy mendapatkan panggilan sebagai CJH untuk keberangkatan tahun 2023 ini setelah penantian panjangnya selama sekitar 15 tahun. "Alhamdulillah, saya tercatat pemberangkatan haji tahun ini. Masih percaya tidak percaya," aku Dedy saat ditemui di rumahnya, Selasa (6/6).
Cerita CJH berusia 44 tahun itu bermula pada tahun 2008 silam, yang merupakan tahun awal ia mendaftar haji. Saat itu, ia membeli porsi atau kursi haji seharga Rp 25 juta. Kemudian, pelunasannya dibayarkan saat menjelang tahun keberangkatannya. "Awalnya dijanjikan berangkat tahun kemarin, ketika Covid-19 itu. Ternyata tunda, dan berangkat sekarang," beber dia.
Masa kecil Dedy hingga beranjak remaja sebenarnya tidak ada keinginan menunaikan rukun Islam kelima tersebut. Alumnus SMK Berdikari Patrang (Dulu STM Berdikari) tahun 1997 itu malah suka membantu usaha ayahnya, di bengkel las, sejak tahun 2003. Malah ia sempat membantu ayah dan ibunya berangkat umrah.
Namun, keinginan sang ayah sebenarnya berangkat haji. Entah apa yang mengilhami Dedy, begitu ayahnya tutup usia pada tahun 2007, Dedy seketika mendaftarkan dirinya haji, setahun sepeninggal ayahnya, atau tahun 2008. Padahal ekonominya saja saat itu masih pas-pasan. "Ya, saya daftar saja gitu. Almarhum ayah yang sebenarnya ingin mendaftar haji. Mungkin saya hanya melanjutkan niatan ayah saya saja," kenang ayah dua anak itu.
Sejak saat itu Dedy hanya fokus ke pekerjaannya sebagai tukang las. Lambat laun, ia mempekerjakan tetangga atau saudaranya di sekitar bengkel las. Usaha lasnya sebenarnya tidak terlampau besar. Namun, sekitar 10 orang tenaga hari ini, bengkel Dedy mampu mendulang omzet kotor per bulan mencapai Rp 20 jutaan lebih. "Itu sekarang, dulu-dulunya ya harus jatuh bangun," kenang dia.
Sambil mengembangkan usahanya, Dedy juga menyisihkan sebagian rezekinya untuk biaya pelunasan. Saat itu ia sebenarnya direncanakan berangkat pada tahun 2024 mendatang. Namun, entah bagaimana ceritanya, keberangkatan Dedy tiba-tiba maju menjadi tahun 2023 ini. Hal itu mengejutkan dia. "Bingung pasti, belum biaya pelunasan Rp 31 jutaan. Biaya selamatan nanti gimana. Jadi, bismillah, saya cari talangan, jual mobil saya," cetusnya.
Tak sampai di situ, rencana keberangkatan haji Dedy juga memaksa dia belajar mengaji. Sebab, ia sendiri sedari kecil tak begitu fasih mengaji. Bahkan ia sampai meminta seorang ustad ke rumahnya hanya untuk mengajarinya mengaji. "Anak-anak saya juga kadang mengajari saya mengaji. Kan apa salahnya anak mengajari bapaknya," katanya, disusul tawa.
Di balik itu semua, Dedy merasa mendapatkan mukjizat, begitu ia ditetapkan menjadi CJH tahun 2023. Sebab, sejak saat itu ia merasa pintu rezekinya oleh Yang Mahakuasa dibukakan dari segala arah. "Jujur, antara percaya dan tidak percaya, sampai hari ini, sejak saya mendapat panggilan haji ini, ada saja jalan rezeki itu untuk melunasi. Untuk biaya selamatan, biaya sekolah anak dan istri di rumah, dan sebagainya," aku dia.
Dedy memang tidak memiliki pekerjaan lain sebagai tukang las. Sementara istrinya sehari-harinya hanya di rumah, sebagai ibu rumah tangga dan merawat anak-anaknya. "Mungkin karena berkeyakinan, ketika Allah memanggil, itu pasti Allah juga menjamin," katanya penuh makna.
Di akhir, Dedy juga mengisahkan kala ia masih kecil dan sekolah STM. Saat itu ia memang dikenal sebagai siswa yang nakal dan suka bolos. Bahkan, ketika kumpul-kumpul bareng rekannya, ia masih hapal betul bagaimana cara dia bercanda.
“Saya dulu bercandanya ke temen gini, saya memang tidak pernah naik pesawat, nanti kalau sekali naik, langsung ke Makkah. Saya juga gak pernah sekolah tinggi, gak pengen punya titel, paling kalau ada ya, titel H saja (haji, Red)," kenang Dedy, yang kemudian tertawa. Rencananya, Dedy akan diberangkatkan ke Tanah Suci mulai tanggal 13 Juni 2023 mendatang dan tergabung dalam kloter 69, di KBIH Al Ghazali Kranjingan. (c2/nur) Editor : Safitri