BACA JUGA : Ada Latihan Menembak di Pandanwangi, Nelayan Jember Diminta Waspada Tinggi
Dosen Ilmu Lingkungan dan Ekologi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember (Unej), Hari Sulistiyowati, mengungkapkan, El Nino berkaitan erat dengan perputaran bumi yang bergerak mendekati matahari. “Itu yang menyebabkan perubahan kenaikan suhu, apalagi ditunjang dengan perubahan ekosistem bumi,” terangnya.
Kurangnya vegetasi tanaman memperparah kondisi tersebut. Salah satunya emisi karbondioksida (CO2) menjadi lebih banyak. Menurutnya, El Nino berhubungan dengan meningkatnya suhu. Udara bergerak dari kondisi bertekanan tinggi ke rendah. Begitu pun dengan suhu. “Ini memengaruhi gelombang air laut,” papar Hari.
El Nino yang akan terjadi di Jember, kata dia, membuat kondisi cenderung kering dan kemarau panjang. Suhu menjadi lebih panas, bisa mencapai 33 sampai 35 derajat Celsius. Hal ini bisa menurunkan hasil pertanian, terutama pada sawah-sawah tadah hujan.
Sementara itu, dalam rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), 6 Maret lalu diprediksikan musim kemarau tahun 2023 akan tiba lebih awal dari sebelumnya. Puncak musim kemarau 2023 diprediksikan terjadi di Agustus.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih awal pada bulan April mendatang meliputi Bali, NTB, NTT, dan sebagian besar Jawa Timur.
Pada semester kedua tahun ini, terdapat peluang sebesar 50-60 persen kondisi netral akan beralih menuju fase El Nino. Maka dari itu, lanjut Dwikorita, pihaknya mengimbau kementerian/lembaga, hingga pemerintah daerah dan seluruh masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau. Pemerintah daerah dan masyarakat, tambah dia, dapat lebih optimal melakukan penyimpanan air.
Sementara itu, Pemkab Jember juga mulai berupaya dengan membuat irigasi tanah dan ditinjau langsung oleh Bupati Jember Hendy Siswanto, Rabu (24/5) lalu, di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Hal itu sebagai salah satu langkah persiapan dini menghadapi El Nino. “Proyek itu (irigasi tanah, Red) akan jadi percontohan, bahwa Jember sudah siap menghadapi El Nino yang dikabarkan akan melanda Indonesia,” pungkasnya. (sil/c2/dwi) Editor : Safitri