BACA JUGA : Air Sendang Gotan Mujarab Obati Luka Berdarah
Ibarat rambu-rambu lalu lintas, kode etik menjadi bagian penting yang harus ditaati agar selamat. Setiap pemberitaan tidak boleh menyalahi kode etik tersebut. Nah, di era yang serbacanggih ini pun, wartawan tidak boleh melakukan plagiarisme, termasuk mencuri foto dan video.
Ombudsman Jawa Pos, Bambang Janu Isnoto, menyebut, kode etik jurnalistik sebagai etika profesi jurnalis menjadi prinsip dasar untuk dipatuhi. Menurutnya, selama ini banyak wartawan atau media yang bermasalah ialah yang bekerja tanpa memedulikan kode etiknya. “Jika ingin selamat harus memegang kode etik jurnalistik,” tegasnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (16/5).
Bahkan, dia melebarkan keselamatan yang didapat jika mematuhi kode etik tersebut bukan hanya di dunia, tapi juga akhirat. Berita harus seimbang dan berimbang. Memberikan porsi yang sama kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pemberitaan. Sehingga, tidak seolah-olah menyudutkan salah satu pihak tanpa memberikan kesempatan pihak lainnya untuk memberikan komentar. Hal ini juga menghindari wartawan beropini dan tidak membiarkan pembaca berkesimpulan liar.
Wartawan harus bersikap independen. Seluruh proses jurnalistik tidak memihak pada suatu kelompok. Semua sudut pandang dicantumkan, sehingga tulisan yang diproduksi benar-benar cover both side. Kemudian, akurat, tidak ada iktikad jahat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bambang menyampaikan, jika berita yang ditulis sudah mengikuti kode etik jurnalistik, kemudian masih ada yang tetap menggugat, maka dipastikan akan tetap menang. “Seimbang, kutipan benar, sesuai fakta, maka dibawa ke mana pun (jika dilaporkan, Red) akan menang,” ucap mantan pemimpin redaksi Kaltim Post itu.
Sebaliknya, apabila proses peliputan menyalahi kode etik dan berita yang dihasilkan tidak berimbang, salah kutip, data yang dimunculkan keliru dan asal comot, maka sangat mudah untuk digugat. Itu tindakan yang sedianya harus dihindari oleh setiap wartawan atau pekerja media lain. “Celaka itu, yang sengsara itu nanti pemimpin redaksinya,” serunya seusai memberikan materi dalam yudisium mahasiswa FISIP Universitas Jember.
Lebih lanjut, alumnus Prodi Kesejahteraan Sosial FISIP Unej itu menuturkan, orang yang akan memasuki dunia kerja harus bersiap menghadapi tantangan yang lebih nyata. Dia menyebut, ada tiga pilihan dalam hidup. “Menjadi orang gagal, biasa-biasa, atau menjadi orang yang sukses,” katanya.
Setiap orang, kata dia, pasti menginginkan kesuksesan. Namun, tidak ada sukses yang diraih tanpa adanya perjuangan dan kunci yang dilakukan. “Kuncinya harus kerja keras, tulus bekerja, memaknainya sebagai anugerah, tidak berhenti belajar, disiplin, tidak cengeng, semangat, pantang menyerah, jujur, dan memiliki jiwa entrepreneur,” ulas Bambang. (sil/c2/nur)
Editor : Safitri