BACA JUGA : Aplikasi Si-Kance Lanim, Inovasi Layanan Lapas Muara Enim
Seperti diketahui, beberapa hari yang lalu sebuah video sempat viral di media sosial. Manusia silver terlibat baku hantam di simpang empat SMPN 2 Jember. Manusia silver terlihat berkelahi dengan pengendara. Aksi itu pun banyak yang menyayangkan, karena manusia silver diduga menjadi penyebabnya.
Bahkan, di media sosial beredar ajakan agar masyarakat ikut mencegah menjamurnya manusia silver. “Di Jember pengendara mobil ditawur pengemis manusia silver. Hati-hati, jangan pernah kasik apa pun biar gak tambah banyak. Sepakat mulai sekarang jangan kasik uang kepada manusia silver di mana pun sebagai bentuk solidaritas terhadap korban penganiayaan manusia silver,” demikian ajakan yang sempat ditanggapi banyak dukungan di medsos.
Menurut Komandan Regu (Danru) Tiga Unit Siaga Praja Satpol PP Jember Muhammad, penertiban yang dilakukan kemarin ada beberapa yang berhasil diamankan. Keduanya adalah manusia silver yang beroperasi di traffic light. "Sepertinya dua orang yang berhasil diamankan untuk hari ini," ujarnya, kemarin. Menurutnya, razia akan terus dilakukan sampai Jember bebas dari aksi manusia silver yang mengemis di jalanan.
Kepala Dinas Sosial Jember Akhmad Helmi Luqman kepada Jawa Pos Radar Jember mengatakan, Dinas Sosial membina mereka sesuai dengan Perda Nomor 08 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial. Di dalamnya ada unsur pembinaan.
Menurutnya, setelah Dinsos menerima manusia silver yang terjaring penertiban oleh Satpol PP Jember, pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Dalam hal ini, mereka yang terjaring akan diikutkan dalam pelatihan-pelatihan yang ada di pemprov.
Kemudian, dilakukan asesmen ke rumah manusia silver. Kemudian, menyampaikan kepada ketua RT/RW agar yang bersangkutan tidak lagi melakukan tindak pidana ringan (tipiring). “Kenapa mereka melakukan hal ini, namun masyarakat kan tidak tahu. Mereka itu kan liar dan meminta-minta, dan menghasilkan uang banyak. Mereka juga manusia, paling tidak kita harus tahu, apa yang melatarbelakangi mereka (manusia silver, Red). Kenapa mereka melakukan hal tersebut, nanti kami pilah sesuai dengan klasifikasi hasil dari asesmen,” jelasnya.
Menurutnya, setiap manusia mempunyai potensi, sehingga harus digali. Ke depannya manusia silver tidak boleh lagi menjadi pengamen atau pengemis yang meminta-minta di jalanan. “Harapan kami juga akan memberikan motivasi secara mental lewat beberapa asesor dari provinsi. Karena ini merupakan fenomena di hampir seluruh kabupaten di Jawa Timur, salah satunya di Jember ini,” kata mantan sekretaris Dinas Pendidikan Jember itu.
Dikatakannya, sebelumnya pernah ada manusia silver yang ditempatkan di ruang penanganan orang dalam gangguan jiwa (ODGJ) di Lingkungan Pondok Sosial (Liposos) Jember. “Liposos ini adalah tempat penampungan, bukan tempat rehabilitasi. Tempat ini tidak memadai, karena sempat dirusak juga oleh ODGJ,” kata Helmi.
Menurutnya, di Liposos, mereka yang bukan ODGJ, jika hendak keluar maka juga sangat mudah. Mereka tinggal melompat lewat plafon dan membuka genting, lalu kabur. “Kami mengamankan, bukan menahan. Batasan kami tidak boleh lebih dari 24 jam. Setelah itu, kami melakukan pembinaan-pembinaan. Mereka ini bukan ODGJ, dia bukan pencuri dan ranahnya hanya melakukan tindak pidana ringan (tipiring). Kami hanya bisa menyadarkan dan kami hanya bisa mengubah perilakunya saja,” pungkasnya. (jum).
Mereka Mengaku Tidak Saling Kenal
Keberadaan manusia silver yang sudah marak di Jember ini memang meresahkan, terutama bagi pengguna jalan. Sebab, hampir setiap persimpangan di dalam kota ada manusia silver. Bahkan belakangan ini juga muncul manusia silver yang tidak seperti awal kemunculannya. Bahkan kini ada orang yang bertugas mengumpulkan uang pemberian dari pengendara.
Namun, lebih banyak pengguna jalan yang tidak memberinya. Sebab, mereka dianggap sudah mengganggu ketertiban umum. Terlihat mereka secara bergantian meminta uang kepada pengendara yang melintas. Seperti di lampu merah Geladak Kembar.
Di Geladak Kembar setidaknya ada tiga titik yang ditempati manusia silver. Selain itu, ada lagi yang duduk di pos ojek pangkalan di sekitar Geladak Kembar. Bahkan, terpantau ada perempuan yang bersamanya. Setelah manusia silver itu mendapatkan sejumlah uang, perempuan itu kemudian mendatangi dan mengumpulkan uang dari manusia silver. Hal itu juga terlihat mengganggu pengguna jalan. Ketika lampu mulai menyala hijau, kadang mereka cuek dan tetap ngobrol.
Sementara itu, dulunya, pada awal ada manusia silver di Jember, pelakunya bukan asal Jember. Mereka berasal dari Cirebon dan Bogor. Namun, siapa yang menyangka, banyak warga Jember, utamanya anak muda, yang ternyata menjadi manusia silver juga. Istilahnya, warga Jember ikut-ikutan menjadi manusia silver, tapi jumlahnya cukup signifikan.
“Mereka ini mengaku tidak saling kenal antara manusia silver yang satu dengan yang lainnya. Bahkan terlihat juga seorang perempuan di belakang mereka. Contoh seperti di Geladak Kembar, memang ada yang bertugas mengumpulkan uang hasil dari pemberian pengguna jalan,” kata Akhmad Helmi Luqman, Kepala Dinas Sosial Jember.
Dinas Sosial Jember pernah menerima manusia silver dari penertiban yang dilakukan Satpol PP Jember pada 9 Mei 2023. Mereka mengaku tidak saling kenal antara manusia silver yang satu dengan lainnya. Sayangnya, manusia silver banyak bermunculan di lampu merah. Jika beberapa bulan kemarin di perkotaan dan sudah dirazia beberapa kali, kini manusia silver muncul di wilayah kecamatan pinggiran. (jum/c2/nur) Editor : Safitri