BACA JUGA : Perkuat Sinergisitas, UIN KHAS Jember Ajak Gathering Mitra Media
Setiap peserta pun tampak menghias gerobak yang digunakan pada saat festival dengan berbagai macam tema. Hiasan berbagai adat digunakan peserta untuk membuat tampilan kereta semenarik mungkin. Selain itu, peserta diharuskan menampilkan hasil bumi pada hiasan pegon.
Ketua Tim Kreatif Waton 2023, Enis Kartika, mengatakan, festival yang diadakan kembali agar alat transportasi tradisional pegon terus dilestarikan dan dijaga oleh masyarakat. Meski sempat terhenti 2 tahun, festival Waton kembali dilaksanakan. Meski tidak tepat dilaksanakan pada Hari Raya Kupatan, untuk menghindari membeludaknya pengunjung yang datang. “Sehingga acara dapat berlangsung saat ini,” ujarnya.
Acara pelepasan pertama dilakukan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember Harry Agustriono dengan mengibarkan bendera tanda mulainya pelepasan kereta pegon pertama. Disusul dengan berangkatnya 45 kereta peserta lain yang mengikuti festival. Mereka berasal dari beberapa komunitas pegon yang ada di Jember.
Kereta yang telah dihias memenuhi jalur festival membuat kemeriahan acara tersebut sangat terasa. Selain pegon sebagai puncak festival, terdapat juga kirap budaya dari beberapa kesenian yang ditampilkan saat acara berlangsung di kawasan wisata Pantai Watu Ulo.
Banyak peserta mengeluhkan festival pegon yang dihentikan selama 2 tahun lamanya. Hal tersebut juga mengakibatkan pengurangan jumlah peserta pada festival tahun ini. Namun, festival yang diadakan kembali saat ini tetap meriah, dengan menampilkan berbagai jenis hiasan dari macam-macam budaya yang ada di Indonesia.
Keunikan budaya transportasi pegon tersebut tidak hanya terletak pada pegon itu sendiri. Sebutan pengemudi pegon juga sangat unik, yaitu cikar atau bajingan. Sebutan masyarakat tersebut seolah memberi informasi tentang kebudayaan itu sendiri. Seni pegon telah dilakukan turun-temurun oleh masyarakat Ambulu, khususnya sekitar Sumberejo. Tak jika saat ini banyak pengemudi pegon yang sudah tua.
Terpancar ekspresi senang saat beberapa peserta bercerita tentang festival yang dilaksanakan tersebut. Salah satu peserta, Ahmad Andreas, mengatakan, dirinya sangat bersyukur ketika festival diadakan kembali. Dia juga menjadi bajingan, dan tidak bisa dilakukan sembarangan. Sebab, terkadang ada sapi yang sulit dikendalikan dan memberontak. “Beda dengan mesin, sapi harus diperiksa terlebih dahulu keadaan dan kesehatannya agar dapat dipakai untuk parade,” ujarnya.
Selain hal tersebut, peserta menyediakan pakan bagi sapi, sebab jarak yang ditempuh cukup jauh. Sapi juga ditunggangi banyak orang dari setiap kereta yang mengikuti festival. Setiap pegon ditarik dua ekor sapi yang berumur kisaran 6–7 tahun. Sapi yang digunakan tersebut adalah sapi jantan. (mg1/c2/nur) Editor : Safitri