Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

132 Ribu KK Belum Punya Jamban, Sungai Jadi Lokasi Penularan Penyakit

Safitri • Rabu, 3 Mei 2023 | 17:48 WIB
JADI BUDAYA: Aktivitas MCK masih sering dilakukan warga di sungai, seperti di Desa Pakis, Kecamatan Panti.
JADI BUDAYA: Aktivitas MCK masih sering dilakukan warga di sungai, seperti di Desa Pakis, Kecamatan Panti.
PATRANG, Radar Jember – Setidaknya ada 132 ribu keluarga di Jember yang tidak memiliki jamban. Jumlah tersebut membuktikan bahwa masih banyak warga Kota Suwar-Suwir ini yang buang air besar (BAB) sembarangan. Kondisi tersebut membuat sungai menjadi lokasi penularan berbagai penyakit.

BACA JUGA : Tamara Adi Handayani, Duta Budaya Jatim Gencar Kenalkan Kebudayaan Jember

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember dr Koeshar Yudyarto membenarkan bahwa warga yang belum memiliki jamban mencapai 132.567 KK. Koeshar menduga, rendahnya capaian ODF (open defecation free) itu disebabkan berbagai faktor. Mulai soal faktor ekonomi yang tidak mampu membuat jamban, atau memang karena perilaku atau kebiasaan masyarakat. Meski begitu, Koeshar optimistis ke depan ODF Jember akan mencatatkan angka yang baik.  Pada tahun 2024 juga menargetkan ODF.

Menurutnya, BAB sembarangan menimbulkan permasalahan kesehatan yang tidak baik bagi masyarakat. Bukan hanya bagi mereka yang melakukannya, tetapi juga orang-orang di sekelilingnya. Perilaku BAB sembarangan di sungai berpeluang besar menularkan penyakit melalui aliran air.

Dia mencontohkan, seseorang yang sedang diare, kemudian BAB ke sungai, bisa menularkan ke orang lain yang beraktivitas di sepanjang aliran sungai tersebut. Masyarakat yang menggunakan air untuk mandi atau mencuci bisa membawa penyakit yang sama. Bukan hanya diare, tetapi beberapa penyakit menular lainnya.

Koeshar mengutarakan, pihaknya sudah memberikan anjuran kepada masyarakat agar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Termasuk di dalamnya BAB pada tempatnya, yaitu dengan memiliki jamban. Dia mengakui, soal larangan BAB di sungai juga sudah disampaikan dalam setiap penyuluhan. “Faktornya adalah soal ekonomi dan kebiasaan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Faktor ekonomi jadi kendala utama masyarakat masih banyak yang belum memiliki jamban. Pembangunan jamban, kata dia, belum menjadi prioritas bagi sejumlah masyarakat. Keterbatasan finansial menjadi pertimbangan untuk membangun. Sebab, tambahnya, mandi, buang air besar atau kecil, hingga mencuci masih bisa dilakukan di sungai.

Pria yang sebelumnya menjadi dokter umum di Puskesmas Tanggul itu menyampaikan, masyarakat masih berpikir bahwa jamban itu adalah tempat yang bagus. Sebab, harus memiliki kloset dengan harga yang mahal. “Kriteria jamban itu asal tidak mencemari air bersih atau sungai, itu sudah bagus,” terangnya.

Penyuluhan yang dilakukan Dinkes juga dibarengi dengan simulasi penerapan penggunaan jamban. Namun, beberapa kali dilakukan belum secara masif direspons oleh masyarakat. “Ini sebenarnya faktor kebiasaan,” terangnya.

Data Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Dinkes Jatim yang dirilis pada 31 Desember 2022 lalu menguraikan, capaian ODF Jember tercatat paling rendah dari kabupaten/kota lain se-Jatim, hanya 24,2 persen. Persentase itu mengindikasikan aktivitas warga di sungai untuk melakukan mandi, cuci, dan kakus (MCK) masih banyak di sungai. (sil/c2/dwi) Editor : Safitri
#Jember