BACA JUGA : Gaji Terlambat, Bawaslu Bondowoso Sarankan PKD Mundur Jika Tak Sabar
Ketua Takmir Achmat Afandi menjelaskan, menurut catatan yang ada, tempat tersebut mulai resmi dibangun sejak tahun 1950 silam. Masjid tersebut dibangun atas masukan dari sesepuh asal Glagahwero, KH Ahmad Musyiqon Baihaqi bersama KH As'ad Samsul Arifin. "Jadi, menurut catatan sejarah, dibentuknya masjid ini berdasarkan usulan dari para ulama terdahulu," ungkapnya.
Konon, masjid tersebut menjadi sarana transit para pejuang dari luar kota untuk singgah saat bergerilya melawan penjajah. Tak hanya itu, para pejuang maupun ulama saat itu juga menjadikan beberapa pondok di Kalisat sebagai media untuk berdiskusi.
Menurut Afandi, dulunya bangunan tersebut belum berbentuk seperti saat ini. Tetapi masih berupa model kraton khas Jember. "Dulu bentukannya masih model kraton khas Jember. Tapi, saat itu sudah disebut sebagai masjid dan digunakan beribadah," terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Memasuki bulan suci Ramadan, banyak kegiatan yang diselenggarakan di tempat tersebut. Sejak pagi hingga malam tempat ibadah itu selalu diramaikan oleh setiap orang yang hendak beribadah. Mulai pagi sudah diisi dengan salat sunah berjamaah dan kajian kultum yang diisi dengan dialog.
Selanjutnya, memasuki siang harinya, masjid tersebut mengadakan kegiatan tausiah yang pesertanya anak-anak. Menariknya, ada pembinaan kajian baca tulis Alquran dikhususkan bagi para orang tua. "Jadi, kami juga beri pembinaan kepada orang tua yang tidak bisa membaca Alquran," ungkapnya.
Hingga sore menjelang berbuka, bangunan bersejarah tersebut akan digunakan untuk membagikan takjil bagi para musafir ataupun warga sekitar. Setiap harinya, kurang lebih 200 porsi makanan yang tersedia untuk warga. "Memasuki pertengahan puasa, kami juga mengadakan Nuzulul Quran," pungkasnya. (faq/c2/nur) Editor : Safitri