Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Masjid Al Ghofilin, Bangunannya Pendapa Perpaduan Arab dan Jawa

Safitri • Selasa, 4 April 2023 | 19:11 WIB
SEMIKLASIK: Masjid Al Gofilin berdiri megah dengan dekorasi campuran antara budaya Arab dengan budaya Jawa.
SEMIKLASIK: Masjid Al Gofilin berdiri megah dengan dekorasi campuran antara budaya Arab dengan budaya Jawa.
JEMBER KIDUL, Radar Jember – Tidak ada pintu maupun jendela di masjid yang satu ini. Tiang-tiang penyangganya pun dari bahan kayu. Ukiran atau kaligrafi ayat-ayat suci terpampang jelas di dinding kayunya. Kesan estetis ala pendapa membuat masjid ini terbilang unik. Masjid itu adalah Masjid Al Ghofilin, salah satu bangunan masjid unik di Jember.

BACA JUGA : Permainan Bola Api Tradisi Pesantren Berlangsung Saat Ramadan Saja

Lokasinya di Talangsari, Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates. Tiap jamaah atau pengunjung yang singgah maupun menunaikan ibadah di masjid ini cukup kagum dengan ornamen yang ada.

Ketua takmir Masjid Al Ghofilin, Baiquni Purnomo, menceritakan, masjid itu dibangun pada 2014 silam. KH Hamim Tohari Djazuli atau yang biasa disapa Gus Miek, salah satu ulama karismatik, pernah memberikan saran kepada keluarga Baiquni Purnomo.

“Jadi, sekitar tahun 1980-an Gus Miek sebagai guru abah saya memberikan mandat untuk mendirikan masjid di sini,” ujarnya, sembari menunjuk bangunan masjid itu.

Dari saran Gus Miek itulah, setelahnya ada berbagai pertimbangan maupun proses panjang. Masjid Al Ghofilin mulai dibangun tahun 2014 silam. Menurut Gus Baiqun, sapaan akrab Baiquni Purnomo, masjid itu mengandung sejarah panjang.

Sebab, lahan tempat berdirinya masjid itu adalah tanah peninggalan KH Achmad Siddiq, salah satu ulama besar di Jember. "Jadi, tanah ini milik salah satu ulama yang menurut sejarah termasuk orang yang membabat Jember, KH Achmad Siddiq," terangnya.

Warna kayu oranye cokelat mendominasi masjid itu. Konsepnya mengacu pada perpaduan budaya Arab dengan Jawa. Kaligrafi ayat suci diukir di kayu. Di tengah-tengahnya menggantung ornamen lampu dengan desain megah berwarna kuning emas.

Tiap harinya, di masjid itu selalu ada kajian bersama. Bahkan pengunjung yang hadir tak hanya warga sekitar. Sejumlah anak punk pun, menurut Gus Baiqun, tak canggung untuk singgah dan beribadah di sana. "Mereka (anak punk, Red) kami tampung dan diberikan pelajaran keagamaan," pungkasnya. (faq/c2/bud) Editor : Safitri
#Jember