Mereka kemudian dibina agar tidak melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat selama Ramadan.Iptu I Nengah Jeffry, Kepala Seksi Humas Polres Bantul mengatakan, puluhan pelajar tersebut diamankan ketika kedapatan nongkrong di Jalan Patuk-Dlingo. Delapan orang di antara mereka baru selesai melakukan tawuran perang sarung.
Sementara 16 pelajar, diduga sekedar nongkrong-nongkrong.Jeffry menambahkan, dari kegiatan itu 13 unit motor turut disita. Lantaran para pemiliknya terlibat perang sarung. Belasan motor tersebut disita dan baru bisa diambil oleh para pelajar setelah Hari Raya Idul Fitri.
“Kami undang pula orang tua dari masing-masing pelajar untuk bisa memberikan pembinaan, serta diimbau agar senantiasa berpartisipasi dalam mengawasi anak-anaknya,” jelas Jeffry dalam keterangannya kemarin (2/4).
Mantan Kasi Humas Polres Kulonprogo itu menegaskan, penyitaan kendaraan bermotor itu dilakukan untuk memberi efek jera bagi para pelajar. Selain karena belum cukup umur, penggunaan kendaraan untuk tawuran.
Menurut dia juga tak jarang membahayakan dan meresahkan masyarakat selama bulan ramadan.
Diakui Jeffry, para orang tua memang banyak keberatan jika dilakukan penyitaan sepeda motor. “Selama Ramadan ini Polres Bantul beserta jajarannya akan terus berpatroli.” imbuh polisi itu.
Terpisah, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, Bupati Bantul, meminta, agar masyarakat khususnya para orang tua ikut mencegah tindak kenakalan remaja. Tak terkecuali kejahatan jalanan dan tawuran dikenal sebagai perang sarung saat ramadan.
Menurutnya, untuk mengantisipasi tindak kenakalan remaja bukan hanya peran pemerintah dan aparat saja. “Saya mengajak seluruh orang tua di Bantul agar lebih care, lebih perhatian, lebih intensif di dalam melakukan pengawasan anak-anak.”pungkas dia.(*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Dokumentasi Humas Polres Bantul
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Jogja
Editor : Alvioniza