BACA JUGA : BRI Kembali Buka Program Management Trainee & BFLP IT
Ketua Takmir Masjid Al Mubarok, Achmad Fauzan Adimah, menjelaskan, hakikatnya berpuasa adalah menahan hawa nafsu. "Salah satu bentuk godaan hawa nafsu seperti makan dan minum," ujarnya.
Menurut Fauzan, ketika ada seorang yang berpuasa, namun bermalas-malasan, artinya orang tersebut mengikuti hawa nafsunya. Sementara, berpuasa pada intinya kita harus melawan dan belajar mengendalikan hawa nafsu.
Harapannya, ketika sudah di luar bulan puasa, umat muslim mampu melawan dan mengendalikan segala macam nafsu yang menjerumuskan ke dalam kesesatan. "Malas-malasan contohnya, setelah salat Subuh tidur, kemudian bangun hanya saat memasuki waktu salat dan berbuka puasa," ujarnya.
Hukum bagi seorang yang menjalani ibadah puasa namun tetap bermalas malasan, puasanya tetap sah. Sayangnya, fadilah atau keuntungan melawan hawa nafsunya tidak ada. "Sangat disayangkan jika berpuasa hanya dihabiskan untuk tidur saja," bebernya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Harapannya, setiap orang yang berpuasa mampu meningkatkan ibadah dan melawan nafsu yang membawa manusia pada jurang dosa. "Memang betul tidur di bulan puasa salah satu bagian dari ibadah. Namun, jangan sampai menjadi sebuah patokan hingga meninggalkan ibadah lain yang lebih besar pahalanya," pungkasnya. (faq/c2/bud) Editor : Safitri