BACA JUGA : Gelombang Tinggi Nelayan di Kota Kupang Belum Melaut
Hari Sejuta Pohon ini sejatinya setiap tahun diperingati di Indonesia. Yakni pada 10 Januari. Bahkan, pada 1993 atau 30 tahun silam, Presiden Soeharto melakukan gerakan penanaman pohon. Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga ada Gerakan Satu Miliar Pohon di tahun 2011. Sedangkan pada era Presiden Jokowi, 2016 lalu, menanam pohon diibaratkan menanam harapan dan doa untuk kelangsungan hidup generasi penerus bangsa.
Gerakan menanam pohon, menurut para ahli, juga sangat penting. Mengingat fungsi pohon bermanfaat bagi kehidupan manusia. Satu pohon bisa menyerap karbondioksida atau CO2 hingga 28 ton per tahun. Satu pohon juga bisa menampung air hingga 100 liter per tahun. Sementara, kebutuhan manusia akan oksigen adalah 10 ton per tahun dan air sekira 10 liter per hari.
Momen Hari Sejuta Pohon itu diperingati setahun sekali untuk meneguhkan kembali upaya penyelamatan hutan dan pelestarian lingkungan, demi mewujudkan lingkungan sehat dan asri. Meski dalam setiap peringatannya sangat jauh dari ingar-bingar, namun semua sepakat bahwa keberadaan pohon sangat bermanfaat bagi manusia.
Di Jember, pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebenarnya juga memiliki program penghijauan. Kepala DLH Jember Sugiyarto mengatakan, secara umum, program penghijauan itu telah ada setiap tahun dan biasanya dilakukan di sejumlah titik di kecamatan. Namun, tidak kemudian masif secara bersamaan. Kegiatan yang masuk dalam kalender rencana oleh DLH Jember, dalam waktu dekat, berlokasi di Kecamatan Jenggawah. "Yang terdekat ada penghijauan, sedianya terjadwal pada Februari 2023 nanti," katanya.
Menurut dia, dalam proses penghijauan atau penanaman pohon, pihak DLH berkoordinasi dengan kecamatan dan pemerintah desa setempat untuk mengetahui detail lahan-lahan kritis yang ada di sejumlah titik. "Dalam berjalannya kita koordinasikan, baru bisa disepakati untuk penanaman dan jenis pohon apa yang akan ditanam. Karena nanti setelah ditanam, yang merawat juga tetap masyarakat," urainya.
Namun, proses penanaman itu memang tidak masif dan berkelanjutan di beberapa lokasi di Jember. Karena itu, tidak ada bidikan satu lokasi khusus ataupun lokasi yang kondisi lahannya kritis. Namun, semua berangkat melalui jalan usulan, gerakan masyarakat, dan koordinasi pihak DLH serta mitra kerjanya.
Sugiyarto juga mengakui demikian. Sebenarnya untuk penanaman-penanaman itu dinilainya telah banyak dilakukan oleh sejumlah pihak, kelompok masyarakat ataupun komunitas yang memiliki gerakan melakukan penghijauan. "Kegiatan penanaman itu sudah dilakukan oleh banyak pihak. Kami bekerja sama dengan balai pembibitan di Karangpring, Sukorambi, untuk penyediaan bibit pohonnya," katanya.
DLH dalam hal ini sekadar membantu penyediaan bibit pohon dan disebarkan ke masyarakat. Sugiyarto menyebut, masyarakat, komunitas, dan kelompok masyarakat dari berbagai unsur bisa mengajukan ke dinas untuk memulai melakukan gerakan penanaman pohon.
Kemudian, DLH akan mengomunikasikan untuk membantu penyediaan bibit kepada Balai Pembibitan DASHL di Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, yang merupakan kepanjangan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI untuk membantu program penghijauan pemerintah di daerah-daerah. Sugiyarto meyakinkan, KLH telah ada kerja sama atau MoU dengan pemkab karena yang ditempati merupakan aset tanah Pemkab Jember. Di lokasi itu, per tahunnya dapat diproduksi mencapai 750 ribu batang pohon dari berbagai jenis, yang diperuntukkan Jember dan beberapa daerah kabupaten tetangga. "Kalau bibit-bibitnya sudah kita sediakan dan kita sebarkan ke beberapa kelompok masyarakat yang melakukan penghijauan," bebernya.
Lebih jauh, mantan sekretaris Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Jember itu menguraikan, sebenarnya di Jember juga banyak lokasi yang menjadi titik lahan kritis. Namun, Sugiyarto tak begitu mengetahui berapa luasan secara umum di Jember. "Per kecamatan itu ada dan memiliki daerah yang kritis beserta tutupan lahannya. Detailnya itu ada di kabid kita," imbuh dia. (c2/nur) Editor : Safitri