BACA JUGA : Perpanjangan Penahanan Ferdy Sambo Mulai 8 Januari hingga 6 Februari 2023
Di tengah deretan rumah gedong dan semipermanen itu terlihat sebuah gubuk yang menjadi tempat tinggal Habib Firdaus. Bocah 7 tahun, kelas satu SD swasta, itu tinggal bersama ibunya, Unsiyeh, serta kakak dan neneknya. Gubuk yang menjadi tempat tinggalnya jauh dari kata layak. Hanya ada satu dipan di ruang tamu. Sedangkan di dapur hanya ada tungku dan sejumlah barang.
Habib dan keluarganya menjalani hidup semakin sulit secara ekonomi sepeninggal bapaknya dulu. Unsiyeh, ibu Habib, harus banting tulang dengan kerja serabutan. Namun, upah yang didapat saat bekerja tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sebab, di dalam rumah itu ada dua anak dan neneknya. Unsiyeh selama ini bekerja menjadi kuli angkut batu, pembabat tebu, berjualan ubi, serta bekerja serabutan demi sesuap nasi.
Habib bersama kakak dan neneknya juga kerap ditinggal Unsiyeh keluar daerah untuk bekerja serabutan. Pada saat ditinggal, Habib dan kakaknya hanya bersama sang nenek yang usianya sudah lebih dari 80 tahun.
Siang itu, Unsiyeh mengaku bangga kepada kedua anaknya. Terutama Habib yang masih kecil. Sebab, saat dia bekerja keluar daerah, Habib tak pernah rewel atau menangis. Habib kecil seperti memahami sulitnya pekerjaan sang ibu. "Sangat bersyukur punya anak Habib. Waktu kecil sudah ditinggal oleh ayahnya. Setiap kali ditinggal kerja dia anteng saja dan tidak pernah nangis," tuturnya.
Habib yang duduk di bangku kelas satu SD terkenal sebagai bocah yang aktif di sekolah. Tak sedikit guru yang menyampaikan pujiannya kepada Unsiyeh. Habib memang tidak banyak berbicara dan terlihat dingin. Namun, ketika di kelas, dirinya aktif bertanya maupun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari gurunya.
Sampai suatu hari, Habib dirundung oleh anak-anak lain. Video perundungan itu pun sampai ke artis ternama Indonesia, yakni Cinta Laura. Habib sempat di-bully karena sepatunya bolong. Habib yang berjalan mengenakan sepatu sejatinya menapak ke tanah atau lantai. Dalam video itu, Cinta Laura merespons dengan mendatanginya langsung ke Jember.
Kedatangan Cinta Laura bukan untuk bertamasya. Melainkan memberikan kebahagiaan dan pengalaman baru kepada beberapa anak yang hidupnya kurang beruntung. Salah satu anak tersebut adalah Habib. Selain itu, ada empat anak lain bernama Erna, Fauzan, Subhan, dam Reza yang juga bertemu langsung dengan Cinta.
Dipilihnya Habib tersebut bukan tiba-tiba. Profil serta data diri Habib dan kisah hidupnya telah disebar oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah hingga sampai ke tangan Cinta Laura. "Bisa dipilih karena sebelumnya Cinta Laura mencari kriteria-kriteria anak yang ingin dibantu. Setelah melihat kisah Habib dan cocok untuk menerima bantuan, maka dipilihlah Habib," kata Sunni Abdurrahman, salah satu pengurus yayasan.
Pengalaman baru dan bantuan dari Cinta Laura tidak akan dilupakan oleh Habib dan keluarganya. Berkat Cinta, mereka dapat mengenal dan mengetahui secara langsung bagaimana kehidupan di luar kampungnya. "Mereka senang sekali katanya, karena tidak hanya melihat keadaan kota dari TV yang ditonton di rumah tetangganya. Ini pertama kali mereka bisa jalan-jalan ke kota. Hal yang tidak pernah terbayangkan oleh mereka yang berasal dari pelosok Jember ini," jelas Sunni.
Cinta selanjutnya memberikan kebahagiaan kepada Habib dan keempat anak lainnya. Yaitu memberi pengalaman dengan hal-hal baru yang belum pernah mereka rasakan. Seperti mengunjungi pusat perbelanjaan sekaligus membelikan kebutuhan hidup dan sekolahnya di Lippo Plaza. Bersenang-senang di kolam renang, hingga menginap di Hotel Aston Jember.
Cinta berpesan kepada Habib agar terus semangat bersekolah dan tidak boleh sampai putus. Tak hanya itu, Cinta juga memperhatikan masa depan Habib dan empat anak lainnya. "Terakhir, karena Cinta Laura peduli ke masa depan anak-anak, jadi dibuatkan rekening tabungan yang hanya bisa diambil ketika nanti mereka berumur 17 tahun," pungkasnya.
Kini, Habib dan Unsiyeh yang sempat bertemu Jawa Pos Radar Jember, kemarin, tersenyum semringah. Bertemunya Cinta dengan Habib seperti membuka secercah harapan untuk menggapai bintang-bintang di langit. Ada pengalaman dan semacam jaminan masa depan untuk bisa hidup lebih baik dari segi pendidikan dan ekonominya. (c2/nur) Editor : Safitri