Mulai dari anak-anak dengan egrangnya, kelompok ibu-ibu dengan kerajinan dan kulinernya, hingga komunitas lansia dengan kegiatan di sekolah eyang-eyangnya. “Itu semua manifestasi gerakan Tanoker memberdayakan dan meluaskan wawasan masyarakat. Sehingga Tanoker menjadi lumbung pengetahuan bagi semua,” kata Farha Ciciek, Ketua Tanoker Ledokombo, kemarin.
Menurut Ciciek, Tanoker dengan wisata edukasi maupun komunitas yang ada di dalamnya sangat terbuka untuk semua kalangan dari berbagai daerah. “Kami juga ingin berbagi apa yang ada di sini. Melalui lumbung karya dan lumbung kebahagiaan, yang terbuka untuk siapa pun,” katanya.
Saat acara kemarin, ada aneka kuliner sehat, enak, dan unik, serta kerajinan tangan ramah lingkungan. Ditambah, outbound dengan permainan khas seperti polo lumpur (bermain bola tangan di sepetak sawah berlumpur), perang bantal, karapan sapi, egrang bambu, egrang batok, bakiak, dan berbagai permainan menarik lainnya, menambah kesan hangat perayaan acara satu tahun sekali itu.
Founder and Director General Global Community Development South Africa Naseema Mustapha mengaku sangat terpukau kala kunjungan pertamanya di Pasar Lumpur, kemarin. Menurutnya, suguhan di Tanoker sangat lengkap dan recommended dikunjungi wisatawan mancanegara. “Pengalaman yang luar biasa berkunjung ke tempat ini. Semua ada di satu tempat ini (Tanoker, Red),” katanya.
Bahkan dirinya juga mengutarakan bahwa pengalamannya berkunjung itu menjadi inspirasinya untuk mengadopsi konsep serupa di belahan bumi lainnya. “Tempat ini menarik dan menginspirasi saya. Ketika nanti kembali ke Zanzibar, Afrika Timur, saya akan buat yang serupa dan mengembangkannya di sana,” pungkasnya. (ben/c2/mau)
Editor : Maulana Ijal