BACA JUGA : Kaget Ada Bayi di Teras Rumah, Sepucuk Surat untuk Pemilik Rumah
Gundukan pesisir di sepanjang Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, terlihat menghiasi Jalur Lingkar Selatan (JLS). Baik di sisi kanan maupun sisi kirinya. Tak ada tambang ataupun tambak. Hanya ada beberapa aktivitas masyarakat yang menggarap lahan untuk pertanian.
Bentangan pesisir yang masih asri dan "perawan" itu tidak lepas dari peran dan pengawalan yang dilakukan masyarakat serta unsur pemerintah desa setempat. Mereka sejak awal kompak menolak segala bentuk eksploitasi masuk ke wilayah pesisir Paseban. "Selama ini kami hanya memperjuangkan apa yang menjadi komitmen kami," kata Satupan, Kades Paseban, Kencong, ketika ditemui Jawa Pos Radar Jember.
Paseban mulai menghangat sejak tahun 2008 lalu. Saat itu, Satupan mengaku masih menjabat sebagai kepala dusun (kasun) di Paseban. "Mungkin sampean sudah tahu bagaimana Paseban dulu. Bahkan sampai demo beberapa kali di Jember kota," kenangnya.
Kades yang baru dilantik beberapa bulan lalu itu mengaku memahami betul bagaimana kecamuk yang sempat menyelimuti Paseban, sebelum dirinya menjabat kades. Sebab, saat itu banyak oknum yang berkepentingan bersekongkol dengan investor. Hal itu bahkan menyulut masyarakat Paseban harus berjaga-jaga setiap hari, setiap malam. "Sebelum saya menjabat kades, masyarakat hampir setiap malam keluar melakukan pengamanan dengan menggunakan sajam," kenang dia.
Menurut Satupan, banyak upaya intimidasi yang sempat ia alami maupun yang dialami warganya. Intimidasi itu datang dari orang-orang dari pihak calon investor yang mengincar kawasan pesisir Paseban. Ia merasa beruntung karena saat itu pihak muspika setempat juga ikut serta membantu menjaga kondusivitas wilayahnya. "Upaya intimidasi itu tidak hanya ke saya sendiri, tapi juga ke warga. Macam-macam bentuknya. Bahkan ada mengancam juga," kata Satupan sambil mengerutkan dahinya.
Kuatnya intimidasi yang diterimanya itu karena warga dan Satupan kukuh menolak pesisir dieksploitasi untuk kepentingan usaha tambak atau tambang. Di periode awal kepemimpinannya saja, sedikitnya Satupan mengaku sempat didatangi oleh dua investor. Satu investor tambak dan satu lagi investor tambang. "Ada dari namanya Supandi, pengakuannya pengusaha tambang asal Kalimantan. Dia menawari, kalau saya mau teken, diberikan Rp 2 miliar. Cuma, saya tolak," ungkapnya.
Setelah investor tambang, ia juga didatangi oleh investor tambak, yang juga memberikan iming-iming sejumlah uang. "Nilainya saat itu dari investor tambak sekitar Rp 500 juta. Sama, itu saya tolak, karena kami ingin Paseban ini tetap kondusif dan pesisir tetap asri," kata Satupan.
Kades yang menjabat untuk periode 2022-2027 itu menambahkan, sebenarnya yang dikehendaki pemerintah desa yakni pengelolaan lingkungan sempadan atau pesisir yang tanpa perusakan. Misalnya untuk pariwisata atau konservasi. "Kalau untuk tambak dan tambang jangan dulu. Kami kurang sepakat, karena itu merusak lingkungan," tegas pria murah senyum itu.
Bambang, salah satu warga Paseban yang menemani Satupan saat itu, juga membeberkan fakta terpilihnya Satupan sebagai Kades Paseban, disebut-sebut karena ia dianggap tokoh masyarakat yang jujur dan sederhana. Kepolosan itu juga terlihat dari cara ia bertutur sapa, berpakaian, maupun komitmennya menolak iming-iming dari investor, dan tidak mudah diintimidasi. "Sekarang alhamdulillah, masyarakat sudah teduh dan keteduhan ini harus dipertahankan," imbuhnya. (c2/nur) Editor : Safitri