Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Mengenang Widad bin Thalib, Ibunda Mantan Bupati Faida

Safitri • Senin, 5 Desember 2022 | 20:32 WIB
KENANGAN: Widad bin Thalib, ibunda mantan bupati Jember, dr Hj Faida.
KENANGAN: Widad bin Thalib, ibunda mantan bupati Jember, dr Hj Faida.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Suasana haru menyelimuti kediaman Bupati Jember periode 2016-2021, dr Hj Faida, di Jalan Panjaitan 109, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Minggu (4/12). Karangan bunga berisi ucapan belasungkawa atas meninggalnya Widad bin Thalib tampak berjajar di sepanjang jalan itu. Keluarga besar, kerabat, warga, hingga para pejabat juga berdatangan turut berbelasungkawa.

BACA JUGA : Indonesia Vs Vietnam, Laga Grup A Piala AFF U-19 2022 Banyak Pemain Kram

Dengan telaten, dr Faida menyalami satu per satu tamu yang datang di rumah duka. Faida dan anggota keluarga yang lain terlihat tegar. Senyum ramah tak bosan-bosannya diberikan kepada tamu yang berdatangan.

Faida yang merupakan putri ketiga dari Umi Widad menuturkan, sebelum meninggal, almarhumah yang sakit sempat mendapat perawatan di RS Bina Sehat Jember selama tiga pekan. Kemudian, dirujuk ke RS dr Saiful Anwar, Malang, selama dua pekan, sebelum kemudian dinyatakan tutup usia di umur 80 tahun.

Siang itu, Faida bercerita panjang lebar.  Semasa hidup, Umi, panggilan ibundanya, merupakan orang yang selalu ingin belajar. Meskipun sekolahnya tidak tinggi, tapi ibundanya diakuinya tidak pernah merasa berkecil hati dan minder. “Hebatnya Umi, setiap diberi amanah Abah membantu pekerjaan apa saja sanggup dan mau selalu belajar. Selain itu, hasilnya juga selalu memuaskan,” katanya.

Dengan hal tersebut, dia juga menilai ibundanya menjadi orang yang berjiwa optimistis serta besar hati. Salah satunya karena pengaruh almarhum ayahanda atau abah, dr Musytahar Umar Thalib. Dikatakan, abahnya itu selalu mendukung berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Umi Widad.

Sambil mengingat kembali sang ibunda, dia menceritakan, dua minggu yang lalu ketika sakit dan baru mampu duduk di kursi roda untuk pertama kali, sang ibunda diperbolehkan keluar RS. Ibundanya itu menyempatkan untuk menghadiri penutupan acara akreditasi rumah sakit. Hal tersebut dilakukan oleh sang ibunda dengan tujuan mengapresiasi perjuangan anak-anak dan para pegawainya.

“Tak seorang pun tahu Umi akan menghadiri acara itu. Karena belum sembuh betul, tapi Umi berusaha menyempatkan. Dan itu seperti kenang-kenangan berpamitan sekaligus apresiasi Umi terhadap kinerja anak buahnya,” ungkapnya.

Dia juga masih ingat betul saat ibundanya masih berada di ranjang rumah sakit. Akan tetapi, tetap memikirkan anak-anaknya dan kaum duafa. Dan disampaikannya juga pesan dan keinginannya di hadapan Faida serta para anggota keluarga yang lain. Sang ibunda memiliki keinginan anak-anak, cucu, dan keturunannya untuk terus peduli terhadap orang lain. “Seperti Abah yang dulu ketika meninggal berpesan untuk menjadikan rumah sakit sebagai istana kaum duafa. Kalau Umi ingin anak dan keturunannya itu jangan jauh-jauh dari membantu kaum duafa,” ulasnya.

Selain itu, ibundanya berpesan untuk dimakamkan di samping makam sang suami. Bahkan pesan itu diakui Faida tidak disampaikan baru-baru saja atau saat-saat sakit. Namun, sudah berulang kali pesan itu disampaikan sejak beberapa tahun yang lalu. Hal itu karena keinginan ibunda untuk bersatu dengan sang suami.

Sementara itu, Mustafida, putri kedua Widad, mengingat kembali momen keseharian sang ibunda. Karena kecintaannya pada tanaman, saat pagi hari selalu diisinya dengan merapikan tanaman-tanaman yang ada. Baik merapikan maupun memberi pupuk rutin dilakukannya sendiri. “Umi saya itu orangnya tidak bisa diam. Kalau diam itu malah tidak senang. Umi juga tetap ingin punya usaha. Karena itu, selain hobi, Umi juga usaha berjualan bunga,” katanya.

Dengan masih senang beraktivitas dan enggan untuk berdiam diri itu, juga diakuinya membuat sang ibunda tidak mengalami pikun. Bahkan tetap mampu mengingat semua hal dengan detail. Selain itu, ibundanya berbeda dengan orang tua seusianya. Di mana sering kali meminta bantuan untuk membawakan barang bawaan seperti tas maupun digandeng dalam setiap kegiatan. Akan tetapi, sang ibunda lebih memilih untuk melakukannya secara mandiri. “Umi kalau masih sehat itu tidak mau digandeng atau dibantuin membawakan barang-barangnya, seperti tas. Katanya, ‘saya masih kuat, kalau saya tidak megang sendiri dan jalan sendiri nanti dikira saya tidak kuat’,” ungkapnya menirukan ibundanya.

Selain itu, tak sedikit orang yang mengatakan kepada ibundanya, untuk apa sudah tua tetap bekerja. Jawaban sang bunda selalu sama setiap kali ada pertanyaan serupa. “Umi selalu jawab ‘tapi kalau gak kerja aku nanti jadi pikun’,” jelas Mustafida.

Hal-hal sepeninggal ibundanya diakui banyak menjadi inspirasi hidup untuk anak-anaknya dan keluarga besar. Bahwa hidup ini harus selalu bekerja. Meskipun mungkin ada hasil lain, tapi kalau tidak bekerja lama-lama nanti akan membuat badan menjadi lemah. Berbeda dengan tetap bekerja, walaupun tua akan semangat terus. “Jadi, dengan tetap bekerja dan tetap mendapatkan penghasilan, Umi juga bisa berbagi kepada banyak orang. Itu juga yang membuat Umi jadi inspirasi untuk saudara-saudaranya. Istilahnya mereka salut dengan umi,” pungkasnya. (c2/nur) Editor : Safitri
#Jember