BACA JUGA : Usai Cetak Gol dalam Piala Dunia Kelima, Ronaldo Lupakan Masalah dengan MU
Perjalanan karir di BPJS begitu panjang Harsika lalui. Masuk pertama kali di BPJS Ketenagakerjaan sejak tahun 2016. Penempatan pertama di kantor Jakarta sebagai sekretaris cabang. Tahun 2019, Harsika mulai menikah dan tahun 2020 ia diberi kepercayaan untuk hamil anak pertama. Saat hamil dia sudah merencanakan untuk pulang berkumpul bersama suami di Malang. Namun, keinginannya tak bisa dicapai lantaran proses pengajuan yang sangat sulit. “Akhirnya saat itu saya bertukar jabatan dari sekretaris ke CSO,” ungkapnya.
Pada tahun 2021 Harsika akhirnya dimutasi ke kantor cabang Kediri. Agustus 2022 Harsika dimutasi kembali ke kantor cabang Jember. Perjalanan panjang yang sudah dilewatinya ini memberikan pelajaran penting dalam perjalanan karirnya. Meski kini tidak lagi menjabat sebagai sekretaris cabang, menurutnya tak masalah. “Perbedaan jabatan ini sama saja. Tidak memengaruhi income yang saya dapatkan,” tutur Harsika.
Pemindahan jabatan dari sekretaris ke CSO pastinya sangat berbeda. Tugas sekretaris lebih private meng-handle internal, mengurus pimpinan, dan administrasi perkantoran. Sedangkan di CSO Harsika harus langsung terjun ke peserta. “Jadi, setiap ada peserta yang mengajukan klaim, garda terdepannya adalah kami sebagai CSO,” jelasnya.
Namun, bekerja di posisi sebagai CSO rasanya lebih asyik. Menurutnya, berada di posisi itu dia bisa tahu persis bagaimana perasaan peserta. Ada peserta yang karena terharunya sampai menangis sesenggukan, karena mendapatkan kan manfaat jaminan kematian. Seperti kemarin yang diberikan oleh bupati. Ada juga peserta yang dijelaskan tak juga mengerti. “Terkadang kalau sudah mendapatkan peserta seperti ini, rasa kesal itu ada. Wajar, sebagai manusia,” tutur Sika, panggilan akrabnya.
Selain peserta yang sulit dijelaskan, ternyata masih ada juga peserta yang sekali dijelaskan mudah mengerti. “Emosional kita benar-benar diuji,” ungkap ibu anak satu itu.
Mengahdapi peserta yang berulang kali dijelaskan tidak mengerti harus ekstra sabar. Cara menjelaskan pun harus berulang-ulang sampai paham. Kalau tidak begitu, dokumen mereka tidak akan lengkap. “Ketika dokumen tidak lengkap, maka tidak bisa diproses untuk pengajuan klaimnya,” ucapnya.
Harsika memaklumi setiap peserta pasti memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda. “Jadi, menjadi CSO harus ekstra sabar dan lebih telaten dalam menjelaskan soal apa saja persyaratan pengajuan klaim dan lainnya,” jelasnya.
Risiko menjadi wanita karir telah Sika terima di awal hingga kini. Tidak mudah untuk dia dan anaknya harus berjauhan dengan suami, orang tua, dan mertuanya. Beruntungnya dia memiliki suami pengertian dan paham akan posisinya. Sika dan suami saat ini berhubungan jarak jauh. Meski di Jember Sika bersama anaknya, akan tetapi waktu bersama anaknya pun terbatas. Hanya di malam hari, selepas Sika pulang dari pekerjaannya. “Terpaksa saya menggunakan jasa orang lain untuk mengasuh anak saya di rumah,” ucap Sika.
Menurutnya, dalam hidup harus ada yang dikorbankan. Ketika Sika sudah memilih untuk menjadi seorang wanita karir, pasti yang dikorbankan adalah keluarga. Tetapi, beda lagi ketika Sika memilih menjadi ibu rumah tangga, pasti tidak akan memiliki karir apa pun. “Tapi tetap kalau saya pribadi berusaha untuk melakukan quality time dengan keluarga saat weekend atau tanggal merah itu tidak bisa diganggu gugat. Harus sama keluarga,” jelas Sika.
Harsika berpesan kepada wanita yang ingin berkarir untuk terus meraih cita-cita setinggi mungkin. “Kalau ingin berkarir, ya, silakan berkarir, tapi jangan sampai melupakan kodrat sebagai wanita. Meskipun kita mengejar karir agar bisa dipandang sebagai perempuan mandiri berpenghasilan sendiri dan bisa membantu suami menambah finansial keluarga. Tetapi, jangan pernah melupakan kodrat seorang wanita, ibu, ataupun istri,” pungkasnya. (mg3/c2/nur)
Editor : Safitri