BACA JUGA : Ferdy Sambo Minta Maaf Telah Bunuh Brigadir J
Kondisi cuaca buruk dengan prediksi gelombang tinggi telah dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Gelombang tinggi diprediksi akan terjadi kemarin hingga Rabu (3/11). Prediksi gelombang akan terjadi di wilayah perairan laut selatan yang tingginya berkisar antara 3,5 meter hingga 4,5 meter.
Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya Fajar Setiawan mengatakan, kondisi tingginya gelombang ini karena dampak dari Tropical Cyclone Banyan dan Nalgae yang terjadi di wilayah sekitar Filipina. Adanya Tropical Cyclone Banyan dan Nalgae berpotensi meningkatkan kecepatan angin di beberapa wilayah perairan yang berdampak pada peningkatan ketinggian gelombang termasuk wilayah perairan Jember.
Selain dampak dari adanya Tropical Cyclone Banyan dan Nalgae, kondisi laut saat ini yang masih cukup hangat membuat sebagian besar wilayah perairan Jawa Timur hingga Samudra Hindia selatan menyebabkan penguapan cukup tinggi. Ini berdampak pada curah hujan dengan intensitas tinggi pula. “Prediksi BMKG, curah hujan yang tinggi akan terjadi hingga pertengahan November,” ucapnya. Curah hujan itu pun memengaruhi kondisi ombak di laut.
Tingginya gelombang yang diprediksi terjadi dua hari akan terjadi hampir sepanjang hari dari pagi sampai malam. Meski dalam hal ini intensitasnya akan berangsur turun. Menurutnya, prediksi intensitas hujan yang cukup tinggi terutama di pagi hari bisa menyebabkan gelombang lebih tinggi dari biasanya. “Jadi, di pagi hari kondisi gelombang bisa menjadi lebih ekstrem dari biasanya,” jelasnya.
BMKG mengimbau kepada nelayan dan para wisatawan yang berada di wilayah perairan selatan untuk lebih hati-hati. Terutama pada waktu pagi hingga siang hari. Masyarakat, terutama yang beraktivitas di laut, diimnbau agar mewaspadai kondisi ini. Termasuk wisatawan yang akan beraktivitas di pantai, agar tidak berenang di wilayah pantai. Sebab, beberapa wilayah pesisir selatan berpotensi memicu rip current (arus yang bergerak menjauhi pantai, Red) saat gelombang tinggi. “Kondisi ini berbahaya bagi wisatawan karena dapat menyeret wisatawan,” ungkap Fajar.
Menurutnya, untuk pedagang yang berada di wilayah perairan pantai selatan masih cukup jauh jaraknya. Kondisi ini tidak terlalu berdampak. Gelombang tinggi ini pula diprediksi tidak berpotensi terjadi banjir rob. “Jadi, kondisi gelombang kurang berdampak secara langsung untuk aktivitas warga di pesisir yang agak jauh dari garis pantai,” pungkasnya.
Sementara, dikonfirmasi terkait potensi ombak besar tersebut, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Sigit Akbari belum merespons hingga berita ini ditulis, kemarin.
Serukan Kesiapan Hadapi Bencana
Sebelum beredarnya informasi peringatan dini oleh BMKG Jatim yang menyebut kawasan pantai selatan akan muncul ombak tinggi, beberapa hari yang lalu, para wakil rakyat di parlemen Jember telah memberikan warning ke pemerintah daerah. Seruan itu salah satunya disampaikan Fraksi Pandekar. "Langkah-langkah kesiapsiagaan penanggulangan bencana harus dipersiapkan oleh pemerintah daerah," urai Agusta Jaka Purwana, ketua fraksi gabungan, PAN, Demokrat, dan Golkar (Pandekar) DPRD Jember.
Jember dinilai termasuk salah satu kabupaten di Jawa Timur yang masuk kategori daerah zona merah. Segala macam potensi bencana alam, seperti gunung meletus, gempa bumi, banjir bandang, longsor, puting beliung, tsunami, sangat memungkinkan terjadi di daerah berjuluk Kota Santri ini.
Peringatan serupa juga dipertegas oleh Fraksi PPP di forum yang sama saat itu. Juru bicara Fraksi PPP Ikbal Wilda Fardana menyebut, beberapa rentetan peristiwa terakhir akibat bencana alam seperti longsor di Gumitir, jembatan putus di Desa Darungan Tanggul, hingga robohnya gedung SDN Gugut 02 Rambipuji, harus disikapi bersama. Khususnya oleh pemerintah daerah.
Oleh karenanya, Fraksi PPP mendesak pemerintah daerah segera melakukan monitoring dan evakuasi terhadap infrastruktur yang diperkirakan sudah lapuk dan lanjut usia. Lalu, mendata berbagai infrastruktur yang diperkirakan sudah tidak layak, untuk kemudian dilakukan rehabilitasi atau pembangunan baru. "Perlu prioritas khusus dan percepatan dalam mengalokasikan anggaran di tahun anggaran 2023," kata Ikbal.
Selain PPP dan Pandekar, Fraksi PKB juga meminta pemerintah daerah dan pemangku kepentingan di Jember agar bekerja sama dan bergotong royong dengan masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam. Terlebih, Kabupaten Jember disebutnya adalah laboratorium bencana yang memiliki beragam potensi kebencanaan. Karenanya, selain ikhtiar berdoa agar terhindar dari bencana, juga perlu diimbangi dengan upaya berupa tindakan nyata. (mg3/mau/c2/nur) Editor : Safitri