BACA JUGA : Korban Banjir di Perum BMP, Ungsikan Anak Istri setelah Sadar Ada Banjir
Kepala BPBD Jember Sigit Akbari mengatakan, selama ini berbagai cara telah dilakukan. Seperti melakukan kajian dengan akademisi. Selain itu, melakukan kegiatan nyata, yakni penghijauan dengan melibatkan berbagai stakeholder lainnya.
Menurutnya, kawasan di Jember ini daerahnya lengkap. Kawasan utara Pegunungan Argopuro dan Raung, kawasan selatan ada pantai selatan, kawasan timur ada Gumitir, kawasan barat perbatasan dengan Lumajang ada Semeru, dan kota banyak lereng pegunungan dan dataran rendah. Jika hujan deras akan banjir, longsor, dan banyak pohon tumbang. Bencana seperti ini bisa diantisipasi agar tidak terjadi dan meminimalkan korban. “Selama ini antisipasi kita adalah upaya mencegah longsor, banjir, dan pohon tumbang,” tuturnya.
Upaya untuk menanggulangi longsor sudah dilakukan. Seperti penanaman pohon yang memiliki akar tunggang. Penanaman ini sering dilakukan. Tapi, karena kesadaran masyarakat belum tinggi, upaya reboisasi tidak bisa utuh. “Belum besar pohonnya, sudah hilang,” ucapnya.
Pada saat seperti ini, ketika sudah terjadi kerawanan bencana, tentunya BPBD sudah fokus untuk melakukan penanganan pada bencana itu sendiri. Jadi, ketika bencana terjadi harus tanggap dalam waktu yang cepat untuk melakukan penanganan.
Saat awal terjadi bencana, hal yang dilakukan BPBD tidak banyak. Di awal BPBD hanya melakukan evakuasi. Mengurangi risiko korban nyawa dan harta benda. Setelah itu, BPBD akan melihat kebutuhan mereka. Menurutnya, BPBD akan membantu dengan sembako dan dapur umum. Untuk dapur umum jika skala yang terdampak luas. “Tapi, jika skalanya kecil kita membuat dapur umum di rumah warga yang tidak terdampak bencana, sehingga bisa membantu kebutuhan mereka,” jelas Sigit.
Selain itu, BPBD akan menugaskan tim Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna). Dalam hal ini mereka berfungsi untuk mengkaji kebutuhan yang ada dan kerusakan apa saja yang terjadi.
Sementara ini anggaran yang dikeluarkan oleh BPBD hanya sebatas bantuan stimulan saja. seperti genting, kayu, batu bata, dan semen. Tetapi, untuk ongkos, BPBD selalu mengoordinasikan dengan camat dan kepala desa untuk gotong royong. “Kebanyakan di perdesaan ini, ketika terjadi kerusakan akibat bencana, kepedulian masyarakat untuk digerakkan gotong royong itu tinggi,” jelasnya.
Anggaran di bidang teknis seperti di Tanggul ada jembatan putus, BPBD tidak bisa memenuhi itu. Menurutnya, hal itu menjadi tanggung jawab dari dinas masing-masing. Anggaran BPBD hanya untuk sembako dan bantuan stimulan. “Kebencanaan ini tidak bisa sepenuhnya dikaver BPBD,” tegasnya.
Dia melanjutkan, kebencanaan pasti mendapatkan perhatian dari provinsi. Untuk tahun depan, rencananya akan ada tambahan bantuan. yakni ongkos dengan standar rumah tipe sangat rendah atau sederhana. “Mungkin bisa terealisasi tahun depan,” pungkasnya. (mg3/c2/nur) Editor : Safitri