BACA JUGA : Ratusan Pegawai Non-ASN Jember “Selundupan”, BKN: 948 Data Tak Sesuai
Perempuan-perempuan Jember tampak anggun nan ayu memakai kebaya tradisional klasik, yaitu kebaya kutu baru berbahan tenun sutra. Beberapa mengenakan kebaya lukis yang semakin terlihat menawan. Dibalut dengan kerudung pandhalungan khas Jember, menambah keunikannya di tengah ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Parade tiga ribu perempuan berkebaya yang digagas oleh Ibu Negara, Iriana Joko Widodo, itu berjalan sejauh tiga kilometer. Mulai dari depan Loji Gandrung sampai Ndalem Wuryoningratan di kota yang kerap dijuluki Kota Batik itu. Komunitas Kebayak'an Jember ikut berbaur bersama sejumlah pejabat dan istri pejabat negara lainnya. Seperti istri Wakil Presiden, Wury Estu Handayani, Ketua DPR RI Puan Maharani, istri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI, Nur Asia, hingga istri Gubernur Jabar, Atalia Praratya.
Humas Komunitas Kebayak'an Jember Nunung Nuring Hayati menceritakan perjalanan parade yang diikutinya bersama anggota lain. Termasuk ditemani oleh penasihat komunitas Kebayak'an Jember, Kasih Fajarini, yang turut berpartisipasi dan menjadi saksi pakaian asli Indonesia.
Menurut, Nunung, kebaya sudah menjadi ciri khas perempuan Indonesia sejak zaman dahulu. Namun, hingga saat ini belum secara resmi diakui oleh dunia. Parade kebaya terbesar itu kemudian juga berhasil masuk dalam rekor MURI. Perempuan yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Jember (Unej) itu menggambarkan kemeriahan suasana kala itu. Sepanjang perjalanan, alunan musik tradisional terus dimainkan. Barisan ibu-ibu bak jamu gendong berbaris rapi.
Di tepian jalan penuh geberan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berjualan. Nyanyian Indonesia Raya di garis finish membuat situasi lebih hikmat. Tak lama, liuk penari tradisional mencairkannya kembali.
Komunitas Kebayak'an Jember memang masih berusia cukup muda, sekitar satu tahunan, dan masih dalam tahap proses pelegalan. Namun, anggotanya sudah bervariasi dari berbagai profesi dan usia. Mulai dari anak muda, ibu rumah tangga, dosen, guru, notaris, dokter, hingga pengusaha.
Usai mengikuti parade kebaya di Kota Solo, rencana yang sedang disusun adalah mengadakan kegiatan serupa di Kota Tembakau, Jember. Dipoles dengan konsep yang agak berbeda diiringi dengan kegiatan sosial. "Hal itu juga sesuai dengan arahan bupati," ungkap Nunung.
Tidak menunggu waktu lama, diperkirakan momen Hari Ibu nanti adalah waktu yang pas untuk menggelar kegiatan berkebaya. Terselip harapan agar perempuan Jember bangga dan mencintai pakaian asli Indonesia itu. "Siapa lagi yang akan menjaga warisan ini kalau bukan kita sendiri," serunya. (c2/dwi) Editor : Safitri