BACA JUGA : Mahasiswa Gemapita FKIP Unej Dirikan Rumah Baca Berbasis Edukasi Kehutanan
Di layar proyektor tersebut, Kiki Lestari menunjukan video Ema latihan berbicara bahasa sehari-hari dan bahasa Inggris. “Ini dulu waktu masih awal memakai implan rumah siput, Ema waktu itu sekitar usia 3 tahun,” ucap Kiki kepada audiens.
Kiki menjadi contoh perjuangan ibu untuk terus optimistis mengobati keterbatasan pendengaran putri pertamanya tersebut. Kepada Jawa Pos Radar Jember, Kiki bercerita awal kali mendeteksi putrinya tersebut ada masalah dalam berbicara. “Dulu saya kira terlambat berbicara atau speak delay itu biasa. Namun, mulai curiga saat usia Ema dua tahun. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya,” ungkapnya.
Saat diperiksa ke rumah sakit, hasilnya Ema mengalami masalah pendengaran atau tunarunggu. Walau hasil medis menunjukan hal itu, tapi Kiki dan keluarga tidak percaya seratus persen. Sebab, dari riwayat keluarga dan suaminya, tidak ada yang mengalami gangguan pendengaran. “Sampai sempat mobil saya nabrak karena kaget dan syok, hasil medisnya,” ucap Kiki.
Menangis, gelisah, bingung, semuanya campur aduk. Kiki tak tahu harus bagaimana. Mencari informasi melalui internet, dokter, dan mencari second opinion beberapa rumah sakit. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil tindakan implan untuk Ema.
Dokter memvonis Ema tidak bisa mendengar dan berbicara karena kerusakan rumah siput yang dialami putrinya sangat parah. Setelah pemasangan implan selama satu tahun, ternyata tidak ada kemajuan pada pendengaran dan berbicara Ema. “Seharusnya umur tiga tahun anak normal itu sudah ngoceh. Tapi Ema tidak bisa sama sekali,” terangnya.
Gagal pemasangan implan rumah siput pertama tak lantas membuat Kiki patah semangat. Mama Ema itu pun memutuskan berobat ke Singapura. Dalam pengobatan ke negeri tetangga tersebut, Kiki baru mengetahui kondisi pendengaran Ema sangat parah. Bahkan, sangat jarang ada kasus seperti itu terjadi. “Khusus anakku ini parah. Harus dibawa ke Singapura dan harus terapi rutin setiap hari dan setiap minggu,” jelasnya.
Meski harus mengeluarkan uang lebih untuk pengobatan Ema, Kiki terus melakukan sampai putrinya bisa mendengar dan berbicara. Setelah pemasangan implan rumah siput kedua di Singapura, Ema tetap menjalani terapi rutin, yang setiap bulannya membutuhkan biaya Rp 7 juta. “Tapi banyak juga yang pakai implan dan tidak perlu perlakuan seperti Ema,” ucap Kiki yang berdomisili di Kebonsari, Jember, itu.
Kiki menceritakan proses Ema belajar berbicara. Sampai saat ini Kiki dan suami masih terus berjuang mendidik Ema agar seperti anak normal lainnya. Dulu harapan Kiki hanyalah Ema bisa mendengar. “Kalau ada mobil lewat dia bisa menghindar dan tidak ketabrak saja. Ternyata setelah berbagai terapi yang dijalankan, perlahan tapi pasti Ema sudah mulai bisa mengenal berbagai hewan meski masih belum bisa berbicara,” terangnya.
Setelah melakukan terapi demi terapi, mendekati usia 4 tahun Ema baru bisa berbicara. Bahkan, Kiki juga sempat ragu untuk menyekolahkan putrinya di sekolah umum. “Saya dulu sempat ragu sekolah umum itu mampu atau tidak,” terangnya.
Karena perkembangannya cukup cepat, baik bicara maupun membaca, Kiki akhirnya berani menyekolahkan Ema ke sekolah umum. Hasilnya juga cukup cekatan dalam menerima pelajaran di sekolah dan tidak kalah dengan anak normal.
Mama Ema berpesan untuk ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus, harus diperiksa sejak kecil. “Salah satu faktor Ema ini bisa berhasil karena terdeteksinya dari kecil, jadi langsung bisa tertolong,” tutupnya. (c2/dwi)
Editor : Safitri