BACA JUGA : Mendaki Gunung Seorang Diri, Mahasiswa Jatuh ke Jurang 85 Meter di Sulsel
Lomba ini diikuti oleh sekitar 100 anak SD yang ada di Jember. Uniknya, lomba egrang dikolaborasikan dengan tarian-tarian daerah yang lincah dimainkan oleh peserta lomba egrang. “Agar lebih menarik, kami mengolaborasikan dengan tarian tradisional,” jelas Farha Ciciek, Ketua Tanoker Ledokombo, komunitas belajar dan bermain yang fokus pada pengembangan anak.
Selain itu, Komunitas Tanoker juga memperkenalkan berbagai permainan tradisional, salah satunya egrang. Ciciek melanjutkan, egrang dikenal juga sebagai enggrang atau jangkungan. Sejatinya ini permainan tradisional dengan berdiri dan berjalan menggunakan galah bambu. Namun, saat ini egrang mulai ditinggalkan oleh anak-anak. “Padahal, permainan egrang ini dapat menumbuhkan kreativitas anak,” imbuhnya.
Banyak pengunjung dan tamu undangan yang ikut memeriahkan acara reopening Pasar Lumpur. Salah seorang tamu yang berpartisipasi berasal dari Australia, Fiona Hoggart, Konsul Jenderal Australia cukup antusias.
“Saya sangat bangga bisa datang ke acara seperti ini. Melihat nilai-nilai tradisional yang ada di Jember. Hebat sekali,” terang Fiona saat diwawancarai Jawa Pos Radar Jember.
Di lereng Gunung Raung itu, egrang tak sekadar permainan tradisional, tapi menjadi alat menuju harapan. Sebab, permainan egrang di Desa Ledokombo berhasil mengubah kondisi desa pemasok buruh migran itu menjadi lebih baik.
Hebatnya, permainan egrang yang dikemas oleh Komunitas Tanoker itu berhasil berubah menjadi satu destinasi wisata kreatif dengan Festival Egrang yang berlangsung setiap bulan September. Jika festival berlangsung, penduduk sibuk menyiapkan banyak hal, karena ratusan tamu dari luar kota dan luar negeri akan datang dan menginap.
Ternyata egrang tak sekadar permainan tradisional. Ledokombo telah membuktikan bahwa permainan itu bisa mengubah desa asal buruh migran menjadi lebih baik. (mg6/c2/bud)
Editor : Safitri