Selain itu, pintu air yang berada di bendungan juga rusak. Debit aliran air tidak dapat diatur, sebab palang tersebut tidak bisa dinaik-turunkan. “Biasanya itu satu minggu sekali dibuka. Sehingga dapat membersihkan lumpur-lumpur yang mengendap di sungai dan volume air bisa diatur,” terang Nunung Adi Kontesa, Kepala Desa Tegalrejo, Kamis (15/9) pagi.
Bendungan Damsaola sempat diperbaiki oleh pihak terkait. Namun, kembali jebol dan belum ada upaya perbaikan lagi. “Permasalahan ini skalanya sudah besar. Jadi, bukan lagi wewenang pemerintah desa untuk menangani,” jelas Nunung.
BACA JUGA: BBM Naik dan Pupuk Sulit, Dobel Uppercut yang Bikin Petani di Jember KO
Akibat jebolnya bendungan ini, aliran air menjadi tidak merata. Dam tersebut rusak sebagian, sehingga air lebih banyak mengalir ke arah utara. Hal itu mengakibatkan dinding sungai mulai terkikis. “Kalau sudah terkikis, khawatir plengsengan itu bisa ambrol dan rumah di dekatnya turut longsor,” jelas Sunarto, Penjaga Pintu Air di Bendungan Damsaola.
Karena terdapat lubang yang cukup besar, Sunarto menambahkan, plengsengan sungai juga mengalami pengikisan di bagian fondasi. Jika hal tersebut dibiarkan, maka akan mengakibatkan air terus menggerus alas dinding sungai. Kemudian, plengsengan akan ambrol dan berdampak pada rumah-rumah di sekitarnya.
Sebelumnya, bendungan yang ambrol itu sempat menyebabkan robohnya rumah bagian belakang milik Rosyidi, salah satu warga yang tinggal tepat di atas dinding sungai. “Dapur saya itu sempat ikut ambrol, karena plengsengannya tergerus air,” ucap Rosyidi.
Pemerintah desa (pemdes) akan mengirim surat kepada Dinas Pengairan. Surat tersebut dijadikan sebagai perantara agar kondisi dam diperhatikan dan segera dilakukan perbaikan. “Hari ini, pemdes akan mengirimkan surat ke dinas terkait, supaya segera dibenahi secara keseluruhan. Karena kondisi dam sudah sangat mengkhawatirkan,” tandas Nunung. (*)
Foto : Noer Fajriyatul Maslahah untuk Radar Jember
Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal