Mahfud, 50, salah satu pemulung, mengaku, asap tersebut mengakibatkan beberapa pencari sampah mengalami batuk dan sesak. “Ya gara-gara asapnya masih ada, kadang batuk atau agak sesak. Tapi karena sudah biasa bekerja di sini, jadi ya tidak apa-apa” jelas Mahfud.
Sisa asap itu karena tumpukan sampah yang terbakar masih menyimpan gas metana, sejenis zat yang mudah terbakar. Sehingga, meskipun api sudah padam, namun asap masih terus mengepul jika tidak terjadi hujan.
BACA JUGA: Pascakebakaran TPA Pakusari, Rencanakan Buat Sumur Artesis
Disebutkan, api bisa benar-benar padam jika turun hujan lebat di wilayah itu. “Dibutuhkan kurang lebih hujan selama tiga hari berturut-turut agar sisa-sisa kebakaran, termasuk asap, bisa hilang secara keseluruhan” tutur Muhammad Masbut, Kepala TPA Pakusari.
Api yang melahap hampir 4.000 meter persegi lahan pembuangan sampah tersebut juga membakar puluhan pondokan yang dibangun pemulung. Ada lebih dari dua puluh pondok yang ikut terbakar.
Pondokan tersebut, Masbut menambahkan, dijadikan tempat untuk pemilahan sampah sebelum kemudian dibawa pulang atau disetor kepada pengepul. Pascakebakaran, para pemulung kembali membangun pondokan di area tumpukan sampah bagian depan yang cukup jauh dari lokasi titik api.
Selama kebakaran terjadi, aktivitas pemulung tidak berhenti karena sampah terus berdatangan. Area yang terbakar ditutup sementara dan para pemulung dibagi menjadi dua bagian. Separuh di atas dan separuh di bawah.
Hanya saja, lokasi pembuangan berpindah ke area depan yang sebenarnya sudah tidak dijadikan tempat pembuangan sampah (area pasif). Hal ini terpaksa dilakukan karena lahan TPA Pakusari mengalami overload, sehingga area pasif terpaksa kembali diaktifkan.
Secara keseluruhan, kebakaran sampah di TPA Pakusari tidak berdampak pada kegiatan yang terjadi di sana. Namun, pihak pengelola kembali menegaskan bahwa siapapun yang berkunjung ke TPA Pakusari dilarang merokok atau melakukan segala aktivitas yang menimbulkan percikan api.
“Sedikit saja percikan api mengenai sampah-sampah yang sudah menggunung dan mengandung gas metana tadi, maka kebakaran tidak bisa dihindarkan,” jelas Masbut. Hingga saat ini, penyebab terjadinya kebakaran belum diketahui dan masih dalam proses penyelidikan. (*)
Foto : Noer Fajriyatul Maslahah untuk Radar Jember
Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal