Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sampah di Laut, Ganggu Keluar Masuknya Perahu

Safitri • Kamis, 4 Agustus 2022 | 20:20 WIB
SAMPAH: Bongkahan barongan bambu menghiasi Pantai Pancer di Puger Kulon.
SAMPAH: Bongkahan barongan bambu menghiasi Pantai Pancer di Puger Kulon.
PUGER KULON, Radar JemberKeberadaan sampah cukup mengganggu kehidupan. Bukan hanya di darat, namun juga di perairan. Selama ini, sampah yang masuk sungai hingga laut banyak macamnya. Mulai dari plastik hingga bongkahan barongan bambu yang menghiasi laut.

BACA JUGA : Polije Pamerkan Mobil Tenaga Surya di Vokasiland Surabaya

Masuknya sampah dari sungai biasanya saat terjadi hujan deras. Sampah yang dibuang di sungai rata-rata mengendap terlebih dahulu. Saat air besar, air sungai tak lancar dan mengikis sembarang tanaman di pinggir sungai. Bahkan, barongan bambu ukuran besar juga hanyut hingga masuk pantai. Salah satunya seperti yang terjadi di Pantai Pancer, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger.

Menurut Catur, warga setempat, saat tidak ada hujan, sampah mengendap di sungai. Lalu ikut arus sungai saat hujan lebat. Akibatnya, barongan bambu yang terkikis oleh arus sungai banyak ditemui di sekitar Sungai Bedadung, kemudian masuk ke pantai. Kondisi ini diakuinya mengganggu ratusan jukung dan perahu milik nelayan.

“Kalau air sungai kecil, barongan bambu masih kelihatan. Tetapi, kalau sudah Sungai Bedadung yang mengarah ke pantai itu banjir, tidak kelihatan. Tapi saat bersamaan banyak sampah yang ikut hanyut. Ini mengotori laut,” ulasnya.

Dikatakan, sampah yang masuk sungai diakui sangat mengganggu. Apalagi, saat nelayan memancing kerap ada yang mendapat sampah. Mulai dari sampah plastik, kayu, bahkan pakaian dalam pria maupun perempuan.

Bagi pemilik jukung dan perahu, sampah tersebut juga kerap membuat baling-baling mesin perahu tersangkut. Apabila kondisi sampah lembek, bisa saja ikut hancur. Namun, jika keras, juga dapat merusak baling-baling perahu milik nelayan.  “Jangan buang sampah ke sungai. Memang dampaknya tidak terlihat langsung. Tetapi, kalau hujan, semua sampah masuk laut,” terangnya.

Menurutnya, barongan bambu itu pun hanyut bersama sampah dari aliran Sungai Bedadung dan sampai ke muara. Tepatnya di Plawangan, Pantai Pancer. “Ini akses utama bagi nelayan, baik yang akan berangkat ataupun nelayan yang pulang melaut,” jelasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, barongan bambu yang ada di muara tersebut terlihat bukan hanya satu atau dua bongkahan. Jumlahnya cukup banyak disertai dengan sampah-sampah plastik. “Paling berbahaya itu kalau air pasang, karena barongan bambu dan sampah terendam, tidak terlihat,” kata Catur.

Menurutnya, setiap hujan deras dan sungai banjir, ada saja perahu nelayan yang rusak akibat sampah dan bongkahan bambu ataupun kayu. “Lebih bahaya lagi kalau nelayan berangkat malam hari, karena tidak kelihatan. Kalau nelayan yang sudah hafal tidak masalah dengan barongan maupun sampah di Plawangan. Tapi, sampah itu juga bisa pindah ke lokasi lain,” jelas Catur.

Paidi, salah satu pemilik jukung yang rumahnya di Dusun Sulakdoro, Desa Lojejer, juga mengaku, saat keluar masuk Plawangan tersebut harus ekstra hati-hati. Jika tidak, perahu akan rusak karena menabrak atau tersangkut barongan bambu. “Kalau terkena lambung perahu, bisa rusak dan bocor,” jelasnya. (jum/c2/nur) Editor : Safitri
#laut #Jember #Sampah