Ayub berangkat dari Nusa Barong bersama dua orang temannya. Dia sengaja tampil beda dengan pakaian unik yang tidak mungkin ditemukan di toko maupun mal di Kabupaten Jember. Bagaimana tidak, dia datang dengan pakaian yang tiada duanya.
Pria itu mengaku, dia berangkat dari Nusa Barong sekitar pukul 04.00. Sejak matahari belum terbit, hampir tidak ada orang yang memperhatikannya. Namun, begitu sang mentari menunjukkan sinarnya, dia dan dua temannya langsung menjadi perhatian banyak orang. Bahkan, di jalanan dia sempat berhenti karena diajak foto bersama oleh seseorang.
Menurutnya, bersepeda memang asyik. Dia pun sengaja melakukan hal itu demi datang ke acara rutin yang diadakan di Universitas Jember. “Hanya mau ikut acara Ring The Bell ke-11,” ulasnya.
Pria itu datang membawa sepeda ontel kesayangannya. Sama seperti peserta lain yang juga bersepeda. Namun, peserta lain banyak yang mengenakan kaus, pakaian petani, jas, dan sebagainya. Sementara, dirinya mengenakan pakaian yang tidak ada di toko. “Sepeda saya produksi tahun 1962,” ulasnya.
Setibanya di Unej dan bertemu dengan peserta lain, Ayub dan kedua temannya langsung menarik perhatian. Bagaimana tidak, selain pakaiannya yang unik, dia juga mengenakan aksesori seperti kepala banteng, kepala kerbau, tongkat, pedang, hingga aksesori lainnya.
Kehadiran Ayub pun membuat sejumlah orang bergiliran untuk mengajaknya foto bersama. Hal itu karena penampilannya berbeda dengan yang lain dan cukup mencolok. “Saya sengaja datang ke sini untuk ikut memeriahkan acara ini,” ulasnya.
Dengan menggunakan pakaian yang unik tersebut, dia dan temannya kebanjiran permintaan foto bersama oleh para pesepeda yang ikut hadir di acara tersebut. Ayub mengaku tidak keberatan dan ikut senang. “Sangat senang,” ungkapnya. (c2/nur) Editor : Safitri