Selain kode tulisan atau aksara tersebut, di lingkungan sekitarnya di sana, peninggalan tradisi batu megalitik, semuanya baru terindentifikasi saja. Belum ada kajian lebih lanjut. Artinya, kata Yopi, secara geografis, wilayah Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, sudah ada hunian sejak era prasejarah hingga awal 5 masehi. "Peradaban itu kan ada tiga, gunung, sungai, dan pesisir, yang mendekati sumber kehidupan. Kalau wilayah Karangharjo dekat gunung dan ada sungai. Sehingga topografi itu menjadi daya tarik untuk hunian di masa itu," imbuh pria asal Kencong ini.
https://radarjember.jawapos.com/berita-jember/05/06/2022/kokohnya-konstruksi-beton-berlapis-siphon-irigasi/
Pasca ditemukan prasasti itu, timnya beserta beberapa perwakilan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim, sempat meninjau lokasi, melakukan survei dan mulai melakukan pengkajian lanjut. "Dari survei dan pendalaman awal, BPCB melakukan pembacaan untuk aksaranya mengenai isi dan maksud sebenarnya," tambah Yopi.
Namun demikian, Yopi memastikan bahwa semua temuan awal tersebut merupakan pintu awal untuk membuka berbagai temuan prasasti, khususnya di Bumi Jember ini. Karena Yopi meyakini, banyak peninggalan prasejarah yang sebenarnya belum terungkap, termasuk sisi lain dari Prasasti Lumbung tersebut. "Tujuannya agar terus dilakukan upaya pengkajian lebih dalam dan komprehensif," tukasnya.
Jurnalis: Maulana
Fotografer: FOTO-FOTO YAYASAN BOEMI POEGER PERSADA
Editor: Nur Hariri Editor : Maulana Ijal