Sejarawan sekaligus Pembina Yayasan Boemi Poeger Persada, Y. Setiyo Hadi mengatakan, prasasti itu merupakan salah satu megalitik (batu besar) yang juga sejajar dengan temuan-temuan yang ada di sekelilingnya, Batu Jeding yang berlokasi lima meter dari Prasasti Lumbung. "Dari konteks itu, kehidupan di masa itu adalah agraris (pertanian) yang berkebudayaan megalitik, dan di situ diduga sebagai tempat suci," jelasnya.
https://radarjember.jawapos.com/berita-jember/05/06/2022/siphon-irigasi-dam-curahmalang-sisa-politik-etis-belanda/
Yang menguatkan batu itu sebagai tempat suci, di sekitar lokasi batu, juga ditemukan manik-manik, berupa gelang-gelang kecil. Lalu di bawah batu tersebut terdapat bagian tubuh tulang manusia. "Ini juga dikuatkan dengan ada temuan Batu Berundak, di sekitar 500 meter dari arah sungai ke Prasasti Lumbung, yang juga diduga digunakan sebagai pijakan menuju lokasi. Artinya di situ juga menjadi tempat ritual atau pemakaman," katanya.
Dari segi aksaranya, lanjut dia, berdasarkan hasil kajian timnya bersama pembaca naskah kuno asal Bali dan Blitar, prasasti itu merupakan aksara Brahmi Tengah yang berkembang antara abad 3 SM sampai abad 5 masehi yang bernuansakan Buddhis (dalam pengaruh agama Budha) Hindia Selatan. Dengan perbandingan Pilar Asoka. "Hindia Selatan itu ada batu bertulis di pilar bangunan, yang tulisan aksaranya mirip seperti dengan prasasti lumbung," tukas Yopi, sapaan akrabnya.
Jurnalis: Maulana
Fotografer: FOTO-FOTO YAYASAN BOEMI POEGER PERSADA
Editor: Nur Hariri Editor : Maulana Ijal