Dosen Fakultas Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Dr Nanang Saiful Rizal menjelaskan, desain dan konstruksi siphon dirancang khusus berbahan dasar beton tiga lapis. Di bagian pintu masuk air terpasang saringan untuk mencegah material berat masuk dan mengendap di dasar shipon. Sementara di dalam siphon tersebut, lebarnya didesain menjadi dua sampai tiga segmen (ruang) untuk menambah kekuatan siphon dari daya tekan dasar sungai. "Konstruksinya harus dari beton, supaya dasar sungai tidak ambruk," kata dosen yang membidangi teknik sipil keairan ini.
https://radarjember.jawapos.com/berita-jember/05/06/2022/siphon-irigasi-dam-curahmalang-sisa-politik-etis-belanda/
Cara pengerjaannya, lanjut dia, biasanya dimulai dengan membelokkan aliran sungai terlebih dulu ke tempat lain, atau cara kedua dengan dikerjakan setengah-setengah. "Sulit jika langsung sungainya dikeruk, lalu dipasang beton, kemudian ditutup lagi. Itu sungai besar, Sungai Bedadung, yang muaranya langsung ke laut. Beda dengan sungai irigasi yang muaranya ke saluran-saluran irigasi kecil pesawahan," jelas Nanang.
Dekan Fakultas Teknik Unmuh Jember ini juga menambahkan, sebenernya, ada kelebihan dan kekurangan sendiri dari dua jenis saluran air tersebut. Siphon dan talang. Jika talang, penempatan yang di atas sungai memudahkan untuk perawatan atau membersihkan sampah. Hanya saja kelemahannya, beton yang menggantung tanpa penyangga tengah bisa rawan ambruk.
Sementara untuk siphon sebaliknya. Penempatannya di dasar sungai membuat konstruksi beton sangat kokoh, namun pada perawatannya sulit. Karena jika sedimen tertanam di bawah, untuk membersihkan harus dengan cara memompa dan biaya mahal. "Baik siphon maupun talang, sama-sama punya kelebihan dan kekurangan tersendiri," pangkas Nanang. Jurnalis: Maulana
Fotografer: Maulana Editor : Maulana Ijal