Cara kerja dari siphon irigasi ini cukup sederhana, mengalirkan air sungai dari Dam Curahmalang melewati dasar Sungai Bedadung. Air masuk melalui dua lubang besar siphon yang kemudian terangkat lagi ke permukaan dan menuju ke aliran irigasi berikutnya.
https://radarjember.jawapos.com/berita-jember/05/06/2022/kokohnya-konstruksi-beton-berlapis-siphon-irigasi/
Sejarawan sekaligus Pembina Yayasan Boemi Poeger Persada Yopi Setiyo Hadi menjelaskan, sebenarnya siphon pada dam irigasi itu menjadi salah satu Politik Etis Belanda. Sebagai bangsa yang telah menduduki negara jajahannya selama ratusan tahun, Belanda menerima tanggung jawab politik etis untuk kesejahteraan rakyat kolonial mereka.
Politik etis sendiri memuat tiga prinsip, yakni memperluas pendidikan bagi pribumi (Edukasi), transmigrasi membuka lahan pertanian baru (Emigrasi), dan membangun sistem pengairan untuk pertanian pribumi (Irigasi). "Irigasi untuk pemenuhan pengairan di lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang saat itu sudah tebu. Terlebih juga didorong adanya Pabrik Gula Bedadung di Tutul, lalu Pabrik Gula Semboro, dan Pabrik Gula Gunungsari," kata Yopi.
Dia juga menjelaskan, siphon pada Dam Curahmalang dibangun pada tahun 1900 silam sekaligus masuk dalam area irigasi pada Dam Induk Rowotamtu, di Desa Rowotamtu, Kecamatan Rambipuji, yang diresmikan pada sekitar satu dekade berikutnya, atau pada tahun 1913 silam. "Dam Curahmalang itu menjadi Afdeeling (sub bagian kerja) dari wilayah Bedadung yang ada di Dam Rowotamtu," kata Yopi.
Riwayat peresmian dam dan siphon itu juga termuat dalam Het Nieuws Van Den Dag, salah satu koran Belanda yang terbit pada tanggal 7 Juni tahun 1913 silam, yang dokumennya terasip dalam museum Boemi Poeger Persada Jember.
Jurnalis: Maulana
Fotografer: Maulana Editor : Maulana Ijal