BACA JUGA : Jang Nara Akan Menikah dengan Non Selebriti
Pemuda muslim ini mengaku, menjadi penyiar radio merupakan pengalaman pertamannya, setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK) di Lumajang. Sebelum menjadi penyiar, Raju sempat menjadi entrepreneur muda. Dia berbeda dengan teman sebayanya sesama muslim.
Keuletan dan kemandirian dalam diri di pesantren dulu memotivasinya untuk melanjutkan kuliah pada jurusan bisnis syariah. Selain itu, dia pun menyukai dunia broadcasting. Nah, saat itulah Raju memiliki teman nonmuslim yang membawanya menjadi salah satu penyiar di Radio Sayup. Radio Sayup yakni radio komunitas milik Gereja Katolik Santo Yusup Jember.
Menjadi penyiar di salah satu radio komunitas Katolik di Jember menjadi tantangan tersendiri baginya. Perasaan canggung juga terus ada dalam hatinya. Bagaimana tidak, dia adalah satu-satunya penyiar muslim yang bekerja di radio komunitas kristiani. Bekerja dalam lingkup yang mayoritas adalah non muslim. Namun, semakin hari, dirinya semakin terbiasa dengan suasana kekeluargaan dalam gereja.
“Awalnya canggung juga. Mungkin banyak yang tidak tahu saya muslim. Tapi, saya tidak mungkin menutupi jati diri iman saya. Lama-kelamaan mulai terbiasa dan semuanya berjalan dengan baik. Semua menerima dan tidak jarang pendengar yang Katolik ikut menyapa saya dengan mengucapkan assalamualaikum,” ujarnya.
Raju menuturkan, banyak ilmu dan pengalaman yang didapat selama menjadi penyiar. Raju semakin memahami bagaimana berkomunikasi dengan banyak orang, termasuk pendengarnya. Apalagi, dia berada dalam lingkup Katolik, sehingga berusaha untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi melalui profesinya.
Raju dikenal sebagai pembawa acara yang ramah saat menyapa pendengar ketika siaran. “Menurut saya, saat ini banyak sekali konflik antarumat beragama yang terjadi. Hal itu terjadi karena adanya pembatas dalam berkomunikasi. Andai kecanggungan itu dihilangkan, semua akan berjalan dengan baik dan rukun,” katanya.
Dia pun menyebut, ketika berkumpul antarumat beragama selayaknya saling menumbuhkan keramahan dan rasa kekeluargaan. Tanpa harus mengesampingkan kepercayaan masing-masing. “Iman dan kepercayaan adalah urusan pribadi masing-masing. Namun, ketika bersama, biarkan rasa kekeluargaan itu saja yang tumbuh,” imbuhnya.
Tak jarang ada beberapa dari pendengar setianya yang datang dan memberikan semangat kepada Raju. Selain itu, juga memberikan perhatian kepada Raju dengan mengingatkannya untuk salat tepat waktu.
Raju berharap pengalamannya di Radio Sayup dapat memberikan pelajaran positif juga untuk teman-temannya di luar sana. Tidak membeda-bedakan iman dan keyakinan seseorang dalam menjalani kehidupan dan menjunjung tinggi nilai toleransi antarumat beragama. (c2/nur) Editor : Safitri