BACA JUGA : Pecatur GM Sergey Karjakin Dapat Lencana Nasional dari Vladimir Putin
Rencananya, JSG akan menjadi lapangan yang ditempati penyelenggaraan seluruh babak penyisihan grup. Setelah itu, di babak gugur hingga final akan digelar di Stadion Semeru Lumajang. Namun, rencana itu bisa saja berubah alias ada potensi perpindahan pembukaan.
Penyebabnya, seperti diketahui bersama, yaitu kondisi renovasi JSG hingga saat ini belum rampung 100 persen. Terutama untuk lintasan atletik yang tak kunjung selesai. Sementara, kondisi rumput lapangan JSG hanya perlu perawatan rutin. Seperti pemupukan dan penyiraman selama beberapa hari ke depan menjelang laga pembuka.
Menurut Murdiyanto, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jember, pihaknya masih berharap pertandingan perdana sepak bola tanggal 17 Juni mendatang sudah bisa digelar di JSG. “Mudah-mudahan JSG sudah bisa digunakan. Karena kondisi pengerjaan lintasan atletik masih on progress,” ujarnya.
Murdiyanto menambahkan, bila progress pengerjaan JSG belum rampung juga, kemungkinan salah satu opsinya adalah memindah venue pertandingan. Yakni dari JSG ke Stadion Notohadinegoro. “Kalau memang belum bisa digunakan, ya akan kami geser ke Notohadinegoro,” ungkapnya.
Opsi pemindahan itu bukan karena kondisi lapangan rumput yang belum selesai. Melainkan, imbas dari pengerjaan lintasan atletik yang dimungkinkan belum selesai. Bila lintasan atletik belum tuntas, tentu lapangan rumput juga tak bisa dipakai. Sebab, nantinya para pemain, ofisial, dan perangkat pertandingan tak bisa menginjakkan kakinya di atas lintasan atletik. “Kalau lapangan rumput JSG sudah selesai 100 persen. Begitu pun Stadion Notohadinegoro, sudah siap,” pungkasnya.
Sementara itu, DPRD Jember kerap mengingatkan agar ada evaluasi harian. Sebab, penyiapan venue menjadi pertaruhan bagi marwah Jember di Jawa Timur dan Indonesia. Apabila pembangunan lintasan atletik atau venue lain tidak selesai, lantas apa yang akan dibanggakan sebagai tuan rumah? (bud/c2/nur) Editor : Safitri