BACA JUGA: Unmuh Jember Kembali Lahirkan Lulusan Perawat Terbaik
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (Unej), Irma Prasetyowati, mengatakan, dalam epidemiologi terdapat teori segitiga epidemiologi. Tiga teori ini nanti yang harus melengkapi untuk menjaga daya tahan tubuh. "Tiga teori ini yang terkenal, ya meskipun ada istilah lain di luar teori ini," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember saat gedung Unej Medical Center (UMC) Unej, akhir pekan kemarin.
Tiga teori tersebut di antaranya host atau manusia, agent atau penyebab, dan yang ketiga environment atau lingkungan. Ketiga teori ini saling berkaitan berkenaan dengan kesehatan dan daya tahan tubuh manusia. "Jika tiga teori ini dapat berkolaborasi dengan baik dan seimbang, maka kecil kemungkinan tubuh terserang penyakit," ucap Irma yang juga Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Jember.
Menurutnya, penyakit itu bisa terjadi karena interaksi antara host, agent, dan environment yang tidak seimbang. Oleh karena itu, interaksi tiga ini yang harus seimbang supaya sehat. Seperti manusia harus menjaga daya tahan tubuh, menjaga pola hidup sehat, mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. “Kalau agent-nya misal karena udara panas yang tinggi, atau musim hujan yang menyebabkan adanya penyakit DBD, maka environment-nya atau lingkungan yang harus dimodifikasi supaya cocok dengan host atau manusia dan mencegah agent-nya atau penyebab tadi. Misal di musim panas dengan memasang AC di ruangan, kalau DBD bisa dengan 3M (menguras, mengubur, dan menutup, Red)," tegasnya.
Jadi, teori segitiga epidemiologi ini saling berkaitan dan seimbang antara manusianya, lingkungannya, dan penyebabnya. Sedangkan untuk menghindari cuaca panas, bisa dengan mengonsumsi air yang banyak, minimal dua liter sehari. Konsumsi serat dan buah yang banyak. Kemudian, kenakan pakaian tidak terlalu tebal, agar mengurangi kegerahan. "Jadi, ketiga teori ini harus dikontrol dengan baik agar seimbang, karena semua penyakit kembali ke tiga teori ini. Kecuali penyakit yang sifatnya bawaan," ucapnya.
Dia mencontohkan, anak-anak dan lansia lebih rentan terkena penyakit daripada yang usia produktif. Sebab, daya tahan tubuhnya lebih kuat. "Umumnya anak-anak dan lansia, asupan vitamin hingga kekuatan metabolisme dalam tubuhnya lebih rendah daripada usia produktif," pungkasnya. (mg6/c2/dwi)
Editor : Safitri